Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
04.28 - 1 comment

Foto Seksi


Bel istirahat berdentang. Anak-anak berhamburan
dari dalam kelas, menuju lapangan basket, mushala, dan kantin. Suara murid-murid yang riang seperti terlepas dari kandang ayam (he he he) itu membuat suasana sekolah menjadi hingar-bingar.
Dan kantin pojok, kantin terfavorit, sudah mulai
bising. Di sebuah meja, ada serombongan cewek. Di antara mereka ada yang kelihatan paling funky,
tertawa sinis sambil memperhatikan sebuah foto.
Cewek funky itu adalah Lini. Nama panjangnya Lini
Aminarti. Kecenya sih hampir sama dengan bintang
sinetron Dini Aminarti cuma kelakuannya aja yang
beda. Si Lini ini orangnya nyebelin karena sirikan
alias nggak mau tersaingi oleh siapa pun! Jadinya
ya, sering-sering jealous gitu, deh!
“Iiih, jijaiii …!” teriaknya sambil
memperlihatkan sebuah foto postcard ke teman-
temannya. Seorang temannya – yang namanya Fan yang artinya supporter itu emang sering men-support Dini dalam hal sirik-menyirik – mengambil dan melihatnya, terus ikutan teriak juga.
 “Ih, jijai juga …!” Akibatnya, beberapa anak yang ada di sana, baik cowok-cewek, ikutan mengambil foto dan melihatnya.
Mereka pun melotot! Ibarat anak kecil yang dikasih duit seratus ribu buat jajan kembang gula,
langsung pada antusias!
“Iiih, bener-bener nggak nyangka…?”
“Gila ya!”
“Tapi body-nya yahud lho!”
Pada saat yang sama Abror, cowok anak
kelas dua yang handsome-nya udah kesohor sampe ke kutub utara itu lewat dari arah belakang. Tadinya sih Abror mau beli somay di kantin pojok yang juga udah terkenal paling delicious itu! Tapi
tanpa sengaja dia melihat ke arah foto yang sedang jadi perhatian. Cowok yang punya alis tebal kayak semut lagi pawai itu ikutan kaget, sampai gelas colanya terlepas dan mengenai baju Lini! Tentu saja Lini, si cewek funky itu jadi heboh!
“Eh, kamu apa-apaan, sih? Pake dong matanya? Lagi ngapain sih ikut-ikutan ngelihat? Hah, baru tau kalo si Ara itu kelakuannya minus?”
Abror bengong. Betul-betul bengong kayak sapi
ompong! He he he. Sementara Ara gadis cantik kelas satu SMA yang paling supel itu keluar dari kelas ditemani karibnya si Juleha yang tambun tapi tersohor paling centil.

“Mau ke mana?” tanya Juleha sambil membetulkan rambutnya yang di-bluecherry (bule cat sendiri) itu.
“Ke kantin pojok, yuk?”
“Aduh, jangan ke situ deh. Mendingan ke kantin uni aja,” kata Ara memberi saran.
“Rese ah, di situ!”
“Eh, aku mau pesan somay, kok!” kata Juleha sambil terus menggandeng Ara yang ragu. Soalnya Ara tau kalo di kantin pojok suka banyak anak-anak yang nyebelin bangsanya si Lini itu, lho. Tapi ketika Juleha menarik tangannya akhirnya ia ikut aja.
“Iya, iya, tapi jangan ditarik-tarik gini, dong!
Emangnya aku kambing!”
“Eh, kamu bukan kambing, justru menurutku hari
ini kamu tampil cantik banget, deh!” ujar Juleha
memuji Ara yang memang terkenal paling cantik tapi paling sederhana penampilannya itu.
“Baru ditemenin ke kantin aja udah memuji setinggi
langit!”
“Tapi suer, kamu cantik banget! Aduh, jangan-
jangan si Lini jadi makin sebel deh!”
“Emang kenapa?”
“Dia kan nggak bisa ngelihat orang lebih cantik
dari dia. Tiap mau sekolah dia pasti nanya ke
cermin ajaibnya, siapa yang paling cantik di
sekolah ini? Pasti si cermin menjawab kamu! Ya,
akibatnya doski makin marah aja, dong! Iya kan?”
“Ah, bisa aja kamu!”
Dua sahabat ini terus melenggang ke arah kantin.
“Eh, Ra, jadi kamu betul-betul nggak mau ya
ditawari jadi model shampo? Katanya sudah ada
agency yang nawarin? Aduuuh, seandainya aku yang ditawari langsung aku terima, deh!”
“Bukannya aku nggak mau, tapi kan aku masih
sekolah, aku khawatir aja sekolahku jadi
terganggu. Lagian selain difoto, aku juga harus
keliling kota untuk membantu mempromosikan produk itu.”
Juleha manggut-manggut. “Eh, cepetan yuk, ntar
somaynya keabisan lagi. Lagian si Abror juga suka makan somay di sana!”
“Iiih, kamu tuh, sebetulnya mau makan somay apa
mau lihat Abror?”
“Ssst, dua-duanya! Hi hi hi.”
“Iih, centil dasar!”
Lini Cs masih bertahan di kantin pojok dan
masih terus menggosip!
“Gila, gue nggak nyangka, tu anak berani berpose
seperti itu?”
“Tapi sebetulnya dia itu cantik lho?” ujar si Fan
lagi.
“Eh, lo kok belain dia, sih?” Lini langsung berang ke arah Fan.
“Eh, enggak, maksud gue bukan menyanjung,
tapi dia itu nyebelin! Iya, maksud gue tadi gue
mau ngomong dia itu nyebelin!”

“Makanya lo semua nggak usah menyanjung-nyanjung dia lagi! Yang alimlah, yang sucilah, buktinya dia juga lebih bobrok dari kita. Iya kan?”
“Iya, iya, bener!” kata Fan mendukung
Lini. Yang lain juga setuju ama omongan Lini.
“Terus gimana dong, sikap kita terhadap dia?”
“Nggak usah pusing-pusing, usir aja dia
dari sekolah ini!”
“Iya, setuju usir!” kata Fan lagi.
“Eh, emang bisa?”
“Kenapa nggak bisa?” Lini balik bertanya.
“Maksud gue, di foto seperti ini kan bukan
kesalahan besar, bukan tindak kriminal gitu lho.
Jadi kayaknya nggak cukup alasan untuk mengusir dia dari sekolah ini.” Lini tercenung.
Dan tak lama kemudian semua orang di kafe
menjadi hening. Ternyata Ara dan Juleha tiba.
Semua mata memandang ke arah mereka. Semua mata memandang sinis, termasuk Abror. Tapi Juleha salah paham,
 “Ssst … Ra, dugaan kamu benar, lihat tuh si Abror ngeliatin gue?”
Sementara Ara merasa ada sesuatu yang aneh,
sehingga dia cepat-cepat menarik kursi dan duduk di sana. Tapi beberapa anak di dekat Ara langsung pindah dengan tatapan sinis ke arah Ara.
“Iiih, kenapa sih mereka? Kayak ngelihat hantu
aja!” Juleha jadi sebal.
“Udahlah, nggak usah diributin… katanya kamu mau pesan somay. Sekalian deh.” Juleha melangkah ke acara counter somay. Abror
mendatangi Ara. Wajahnya penuh hasrat dan bicara dengan suara berat,
“Ara, aku harus bicara?”
Ara bingung. Dia tahu kalau Abror sudah lama
naksir, tapi Ara belum memberi lampu hijau. Ara
lebih senang berteman aja, alias ‘ttm’ teman tapi
memble! He he he. Ara mengira Abror ingin
menyatakan cintanya.
“Eh, Abror pasti lo mau nembak si Ara, ya?” ledek Juleha yang tiba-tiba sudah membawa dua piring somay.
“Kenapa sih nggak nembak gue dulu? Pasti gue terima, deh!”
Abror langsung merah padam, kayak lampu merah.
“Eh, aku, aku hanya mau tanya, kamu pernah foto
seksi pake swim suit ya?”
Ara sempat kaget mendengar pertanyaan itu, tapi selanjutnya menjawab cuek,
“Pernah.”
Abror mendelik, jakunnya naik turun. “Pernah?”
“Ya, emang kenapa?”
“Rupanya kamu betul-betul cewek munafik, ya!”
kata Abror sambil melemparkan selembar foto ke depan Ara dan pergi.

Ara kaget sekali melihat foto itu, “hah?” Juleha
juga kaget!
“S-siapa ini? Gile? Seksi banget?” Juleha
memandang ke Ara,
“Jadi kamu nolak foto shampo tapi nerima orderan foto kayak begini? Dibayar berapa?”
“Eh, masak kamu percaya! Lihat dong, ini
memang wajahku, tapi ini kan bukan badanku! Coba perhatiin, masak perutku pusernya bodong? Iya, kan? Puserku kan nggak bodong!”
“Oh, berarti ada yang berusaha ngajakin lo
fitnes!”
“Fitnes? Fitnah!”
“Eh, iya, ada yang berusaha memfitnah!”
Ara kemudian memutar pandangannya ke arah
meja pojok, di mana Lini and her gank masih kasak-kusuk.
“Black, kerja lo oke juga. Komputer lo canggih juga ya. Orang-orang banyak yang pada percaya, tuh!” kata Lini pada Black. Sementara cowok yang dipanggil Black itu tersenyum tipis,
“Ya, tambahin dong bayarannya.”
“Nanti gue tambahin setelah dia diusir
dari sekolah!”
“Diusir?” Black kaget.
“Iya, gue pengin dia itu dipecat gitu, loooh! Lo
tau kan, kalo masih ada dia di sekolah, pamor gue nggak bakalan bisa naik, dan sandungan menjadi berat untuk mendapatkan cinta si Abror, tau! Ayo, dong lo kasih ide apa lagi? Ntar gue kasih tambahan, deh!”
Si Black anak jebolan sekolah komputer
berpikir,
“Hm, sebentar gue nyari ilham dulu ya…”
“Okay.”
“Ilhaaam… ilhaaam… kamu di mana?”
Dan tak lama kemudian muncul seokor kucing hitam. Dia mengeong dan menempel ke kaki Black.
“Ah, Ilham, kamu ke mana aja, sih… Ayo
sini… pus sayang…”
“Hah, jadi ilham itu nama Kucing? Gue
pikir lo lagi nunggu wangsit! Brengsek lo!”
Si Black nyengir.
“Rasanya untuk menghadapi orang kaya Ara emang enggak bisa pake kekerasan…,” kata Ara kemudian.
“Dia harus diakali dengan taktik dan strategi yang jitu….”
“Maksud lo?”
“Kita harus bikin yang lebih heboh lagi.”
“Foto lagi?”
“Bukan foto, tapi poster!” tukas Ara.”Kita
bikin poster bahwa Ara akan membawakan sebuah tarian erotis di diskotik apa, gitu. Pasti orang-orang akan semakin yakin kalau Ara itu adalah wanita murahaaan ….”
Black bengong.
“Saya salut deh ama kamu,“ kata Juleha yang di
sore hari sengaja main ke rumah Ara.”Kamu
kelihatan santai aja, padahal foto seksi itu udah
nyebar ke mana-mana, ke hp-hp juga udah ada.
Apalagi di Roxy, wah pada heboh tuh!”

“Biarlah urusan foto itu… “ kata Ara cuek.
“Kalo gitu honornya bagi-bagi, dong! Pasti deh
gede bayarannya!” ledek Juleha
“Ember lo ye! Kamu aja foto telanjang sana!”
sembur Ara jadi emosi.
“Jadi itu bukan elo?”
“Eh, udah dibilangin! Badan itu bukan badanku.
Sekarang gampang banget bikin foto kayak begitu! Kamu jangan langsung percaya. Coba aja kamu tanya as Roy Suryo.”
“Lho, siapa dia?”
“Aduh, kamu jarang baca koran, sih!”
“Jadi siapa yang bikin, dong?”
“Ya, aku nggak mau asal tuduh, meskipun aku punya filing pada seseorang… yang selama ini dikenal sebagai Siti sirik!”
“Lini?” Ara menghela napas panjang. “Iya, aku juga heran, kenapa dia kok kayaknya sebel banget ama aku. Jadi bingung.”
“Kasihan banget, deh kamu….”
Besoknya, beberapa poster ‘heboh’ sudah
terpampang di dinding sekolah. Beberapa anak yang melihatnya langsung melotot. Kaget. Histeris. Lini hari itu sengaja masuk siang, alasannya mau ke dokter dulu, padahal dia sengaja mau merekam situasi yang akan terjadi, langsung menghubungi hp-nya Fan.
“Fan, lo udah sampe sekolah?”
“Dikit lagi. Kena macet, nih. Emang kenapa?”
“Nanti lo liat, poster itu udah kepasang apa belum? Kasih kabar ke gue. Gue yakin pasti sekolahan heboh, deh!”
“Emang poster apaan, sih?”
“Aduuuh, lo lemot amat, sih? Udah deh, pokoknya lo cepat-cepat sampe sekolah dan liat poster terus telepon gue!”
“Iya, iya.”
Dan begitu Fan sampai sekolah dia memang heboh. Matanya melotot. Mulutnya ternganga. Benar-benar heboh. Yang lain juga ikutan heboh. Karena poster itu betul-betul sensual dan mengundang siapa saja, apalagi cowok-cowok. Fan langsung menelepon Lini.
“Gimana, Fan? Heboh kan?” kata Lini di seberang sana.
“Heboh banget!” teriak Fan.
“Terus Ara gimana?” kejar Lini.
“Ara? Maksud lo?” Fan bingung.
“Iya, si Ara gimana, di poster itu kan ada foto
Ara yang seksi banget, lagi nari telanjang! Nah,
gue pengin tau reaksi dia.”
“Eh, tapi yang di poster bukan foto Ara.”
Lini kaget. Hampir-hampir hp terbarunya tertelan.
“Hah, foto siapa?”
“F-foto elo.”
“A-apa lo bilang. Yang bener? Udah gue ke sana!”
Sementara Ara dan Juleha yang baru datang
hanya tersenyum-senyum saja melihat poster unik itu. Dan tak lama kemudian Lini pun muncul. Cewek funky ini kaget, karena wajah Ara sudah berubah menjadi wajah dirinya, dan hampir semua poster yang ditempel di dinding, di pohon-pohon, di jalan-jalan juga berubah!

Lini betul-betul bingung, nggak tau harus ngapain, sampai akhirnya dia melihat ke Ara.
“Eh, kamu pasti yang membuat ini semua, kan?” kata Lini menuduh Ara.
“Eh, sory… lo tau dari mana?” jawab Ara
tenang. “Apa buktinya kalo gue yang bikin poster
itu?”
Lini nggak bisa jawab. Dia pergi sambil bersungut. Sementara Abror yang baru datang juga langsung mendekati Ara.
“Mau apa? Mau marah juga?” kata Ara langsung
mendahului Abror.
“Enggak, gue mau ngucapin sory. Lo tetap cewek
baik di mata gue, dan akan tetap menjadi inceran gue. Meski sampe sekarang lo belon ngasih lampu ijo, tapi suer gue akan tetap ngincer lo. Karena gue yakin bukan lo yang berfoto seksi itu.”
“Nah, kamu kok tau?”
Abror melihat ke sekeliling. Yakin aman dan tidak ada kaki tangannya Lini, barulah dia berbicara,
“Si Lini telah mengupah seseorang untuk membuat foto itu. Tapi Lini nggak tau kalo orang yag diupah itu adalah sohib gue si Black. Jadi ketika Black cerita ke gue, tentu aja gue kaget, dan langsung aja gue suruh merubah wajah lo dengan wajahnya Lini! Biar dia tau rasa!”
“Oh, jadi kamu yang bikin, toh?” tukas Ara
tersenyum. “Barusan si Lini ngomel-ngomel ke aku.”
“Jangan khawatir, nanti gue akan ngomong ke dia, kalo perlu dia gue laporin ke polisi karena
berusaha merusak nama baik lo.”
Ara tersenyum lagi. Manis banget. Apalagi di mata Abror, mungkin itu senyum paling manis yang pernah Abror lihat dalam hidupnya. Tapi sayang Ara hanya tersenyum saja, tidak memberi tanda lain selain itu. Inilah yang terus-menerus membuat Abror penasaran pada Ara.
“Eh, kalo gitu, sekarang kita ke kantin dulu
yuk!” teriak Juleha. “Bel masuk masih lama, kan?”
Ara dan Abror setuju.
Pas di kantin nampak sebagian anak ketawa,
sepertinya mereka sedang memperhatikan sesuatu di sebuah meja.
Ternyata mereka sedang melihat foto si Juleha
yang badannya bulet lagi pake bikini dan berenang di tepi pantai.
“Wah, ada kura-kura terdampaaaar…!”teriak anak-anak meledek foto itu. Tentu aja Juleha yang tau anak-anak sedang memperhatikan foto dirinya langsung marah dan mengusir
“Hoi, bubar, buaaaar…! Brengsek, siapa sih yang nyebarain foto gue? Uuuh, sebel!!!”
Tapi kemudian penjaga counter somay datang
mendekati Juleha, “Lho, bukannya tadi pagi non
sendiri yang meletakkan foto itu di sini?”
Hah? Ara dan Abror melongo, tapi selanjutnya mereka ngakak menertawai sahabatnya yang sedang merah semu itu, malu-malu, ternyata ingin juga jadi pusat perhatian! Ha ha ha.
 

Love is Like Water

Gadis bertubuh kurus, berkulit hitam manis, pendiam, yang bernama Emiriana itu tiba-tiba raib. Teman-temannya di kelas II B SMA Negeri Unggulan I merasa kehilangan dia, setelah liburan panjang. Pertanyaan gencar di antara teman-teman sekelasnya. Ke mana gadis yang sehari-hari disapa Emir itu pergi. Mengapa dia pergi tanpa pamit? Apa sebab dia menghilang tanpa jejak?

“Coba telepon ke rumahnya, Dini!” kata Meinar setibanya di rumah Dini.

“Hanya Bik Genah, si pembantu rumah tangga yang menunggu rumah itu, Mei,” ujar Dini.

“Apa kata Bik Genah?” Meinar bertanya lagi.
“Katanya, Emir pamit kepada seisi rumah pada hari libur pertama.

Bersamaan dengan kepergian Emir, 0m Faruk dan Tante Lili kembali ke tempat tugas di Sydney. Jadi, kusimpulkan, Emir enggak ikut orangtuanya, Mei.” Dini menjelaskan.

“Ya, pasti enggaklah,” ujar Meinar. “Sebab, setahuku, sejak lahir sampai selesai sekolah setingkat SMP dia di luar negeri melulu. Bayangkan, selama sembilan tahun Emir berada di berbagai kota di benua Amerika, Eropa, dan Australia. Kata Emir, dia sudah bosan di luar negeri. Dia ingin menetap di Indonesia yang hijau,” cerita Mei.

Seingat Dini, selama di SMA, Emir adalah pencinta alam. Setiap libur dia menjelajah berbagai pulau. Baginya, dana tidak pernah jadi masalah. Bunga depositonya selalu mencukupi kebutuhannya.

“Anak tunggal 0m Faruk dan Tante Lili itu memang gadis petualang,” kata Mei setelah menghabiskan es krim vanila yang dihidangkan Dini. “Dia suka menyendiri, menulis catatan harian, memotret, membuat film dokumenter, dan bertanya kepada siapa saja yang ditemuinya,” sambung Meinar.

Mariam, teman sebangku Emiriana punya pendapat lain tentang kesenangan Emir bertualang.

“Emir merasa kesepian bila selalu sendirian di rumah,” kata Mariam suatu hari di kelas kepada Dini dan Meinar.

“Untuk apa dua pembantu rumah tangga, Bik Genah dan suaminya, Mang Udin?” tanya Dini, hari itu, di kelas, saat jam istirahat.

“Din, enggak nyambung pikiran Emir dan pikiran suami-istri itu,” tukas Mariam. “Emir itu kutu buku sejak kecil. Saat di TK, katanya, dia sudah biasa membaca buku cerita. Sedang Bik Genah dan suaminya membaca saja masih mengeja. Jadi, kedua manusia paruh baya itu bagi Emir benar-benar sekadar teman. Tak lebih dari itu,” tambah Mariam.

Dini dan Meinar mengangguk-anggukkan kepala setelah mendengar cerita Mariam itu.

“Aku makin ngerti tentang Emiriana,” bisik Meinar.

“Dia kan anak orang-orang pintar, Mei,” kata Dini.

“Yes, my dear, I see,” ujar Meinar..

Emiriana sangat sadar, dia itu adalah anak tunggal orang pintar. Kalau tidak pintar, tidak mungkinlah mereka bisa jadi staf di kedutaan. Tetapi, di kelas, selama ini, Emir tidak menonjol. Setiap terima rapor maupun kenaikan kelas, dia paling tinggi mendapat ranking sepuluh di kelas. Hal itu selalu menjadi pikiran Emir. Sering sekali, Emir merasa dirinya tidak cerdas. Dia paham, tidak selalu anak orang pintar sama pintarnya dengan orangtuanya. Sebaliknya, tidak jarang anak-anak orang biasa, wong ndeso, bisa saja berotak cerdas.

Sebenarnya, Emiriana mengembara setiap hari libur adalah dalam rangka mencari tahu banyak hal tentang kehidupan ini. Terutama, dia ingin bertanya apa saja tentang misteri dirinya sendiri.

Sungguhpun Emir tidak menjadi siswi yang menonjol di bidang pelajaran di sekolah, dia tidak rendah diri. Emir telah menemukan kekuatan di bidang lain, yakni bidang seni, terutama seni rupa dan seni sastra. Lukisan-lukisannya, puisi dan cerita pendeknya sudah menghiasi majalah dinding di sekolah dan dimuat di majalah yang berbobot di luar sekolah. Saat kelas naik kelas dua, Emir sudah berani pameran tunggal lukisannya di Galeri Nasional. Saat itu 57 lukisannya dipamerkan dan mendapat perhatian para kritikus dan kolektor lukisan.

Jika Emir disebut-sebut sebagai siswi yang kecerdasannya biasa-biasa saja, itu dia terima dengan ikhlas. Bila kecerdasan yang biasa-biasa saja itu dinilai orang lain adalah suatu kekurangan, Emir pun paham. Dia telah belajar sekeras-sekerasnya. Lalu, apa yang dia banggakan di usia remaja? Kecantikan? No way! Emir tidak pernah merasa dirinya cantik atau bertubuh indah. Fisiknya biasa-biasa saja. Kulitnya hitam manis. Tubuhnya boleh dibilang ceking.
“Di dalam hidup ini harus ada yang kita banggakan, Emir,” kata Ayah suatu hari, sebelum kembali ke tempat tugas, di Sydney. “Nah, pertanyaan Ayah, apa yang Emir banggakan di usia remajamu?” sambung Ayah Faruk.

“Menurut pendapat Ayah, apa yang patut Emir banggakan?” Emir balik bertanya kepada Ayah.

“Prestasimu di bidang seni lukis dan seni sastra, Ayah kira,” jawab Ayah.

“Apakah pendapat Ayah itu tidak sekadar untuk menyenangkan hati Emir?”

“Pendapat Ayah disertai bukti, yakni prestasimu itu sendiri, Sayangku!”

Maka, Emir hakkul yakin, dia telah menemukan kelebihan di dalam dirinya, yakni bakat seni rupa dan seni sastra. Selanjutnya, bakat itu dia asah terus, dan dia latih tanpa henti agar menjadi besar dan terus besar. Namun, prestasi yang telah dicapainya tidak menjadikan dia besar kepala atau congkak. Justru, dia semakin rendah hati, dan semakin senang merenung dan bertualang mencari sesuatu yang baru.
***
Suatu hari, dalam pengembaraannya di Sumatera Selatan, di kabupaten Tanjung Enim, Emir menemukan air terjun kecil. Di bawah air terjun kecil itu tampak batu-batu cadas raksasa yang kukuh dan keras. Tetapi, setelah bertahun-tahun, air terjun kecil itu jatuh dan jatuh terus-menerus menimpa batu-batu raksasa Cadas yang keras dan tegar itu, akhirnya batu-batu itu berlubang. Air terjun kecil itu berhasil membuat lubang pada batu cadas yang keras itu. Menyaksikan kejadian alamiah itu, Emir lama merenung.

“Apa yang Anak temukann di air terjun kecil ini?” Seseorang bertanya kepada Emir.

“Kakek ini siapa?” Emir bertanya dalam keterkejutannya.

“Namaku Kurun,” jawab si kakek berjenggot putih. “Aku menjaga kebun kopi di lembah sana!” Si Kakek menunjuk ke lembah.

“0h, Kakek memiliki kebun kopi yang luas sekali!” puji Emir.

“Bukan milikku, Nak. Em, siapa namamu?”.

“Emiriana. Sehari-hari, aku disapa Emir, Kek. Eh, em, jadi itu kebun kopi siapa?”

“0rang kota menyuruhku menjaganya.”

“0h, Kakek dipercaya, ya?”

“Ya, Nak. Kepercayaan itu bagi Kakek sangat mahal.”

Si Kakek beruban, berjenggot putih, dan bertongkat memuji keberanian Emir menjelajah. Katanya, sangat langka seorang gadis berani mengembara seorang diri dan berpakaian seperti busana lelaki pula.

“Jadi apa yang Anak cari?” tanya Si Kakek pula.

“Aku mencari pengalaman baru dan pengetahuan baru karena aku merasa miskin di kedua hal itu,” jawab Emir sejujurnya.

“Bagus!” ujar Si Kakek sambil menunjukkan kedua jari jempol tangannya.

Ketika Si Kakek kembali ke kebun kopi yang dijaganya, sadarlah Emir. Hari libur tinggal dua hari lagi. Maka segera dia berkemas untuk menuju Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang. Pagi-pagi sekali dia akan terbang ke Jakarta karena lusa, sekolah sudah dimulai lagi.
***
Tiba di sekolah, Emir dikerubungi teman-temannya. Banyak pertanyaan diajukan kepadanya. Apa jawab Emir?

“Tunggu jawabannya dalam buku pertamaku yang akan terbit,” jawabnya sambil tersenyum.

“Buku apa, sih?” desak Dini.

“Lihat saja nanti…,” kata Emiriana sambil tersenyum..

Gadis Impian

Gadis itu datang lagi!
Firman buru-buru merapikan rambut ala kadarnya dan menegapkan postur tubuhnya agar terlihat lebih kekar.
“Siang, Mas,” sapanya lembut.
Melihat senyum manis dan lesung pipi sang gadis, Firman merasakan jantungnya bergejolak.
Sambil mencoba berkonsentrasi, Firman tersenyum gugup, “Pinjam apa, Mbak?”
Sang gadis memutar pandangan ke sekeliling ruangan. “Apa aja, deh,” katanya akhirnya. “Yang romance gitu, ya... Lagi jatuh cinta, nih!” Tambahnya centil, membuat hati Firman memanas.
Firman tersenyum tipis, mencoba menutupi kekecewaan di dalam hatinya.
“The Notebook?” Tawar Firman. Gadis itu tersenyum dan mengangguk. Firman pun memasukkan DVD yang dimaksud ke dalam kantong plastik.
“Semoga langgeng ya, Mbak,” tambah Firman sebelum gadis itu berbalik pergi.
“Langgeng?” tanyanya heran.
“Iya. Biar Mbak sering-sering pinjem DVD ke sini!” Canda Firman, membuat gadis itu tersenyum lebar..

“Mas, Gue Kapok Jatuh Cinta, donk!”
“Hah?” Firman membelalak, “Apa?”
“Saya mau pinjem DVD Gue Kapok Jatuh Cinta.... Ada?” Tanya Gadis itu lagi.
Firman mengangguk kaku, mencari di katalog, dan memasukkan DVD ke dalam kantong plastik.
“Lagi kapok jatuh cinta?” Tanya Firman iseng.
“Iya...” jawab sang gadis, lirih, membuat hati Firman tersentak. Ini adalah kesempatan yang telah lama Firman nanti-nanti! Di saat sang gadis tengah patah hati, dan mungkin Firman bisa mengajaknya ngobrol lebih jauh ketimbang obrolan pelanggan dan penjaga rental DVD yang selama ini mereka lakoni.
“Kok kapok?” Firman bertanya penasaran.
“Iya, nih, kapok aja...” si gadis seperti biasa tersenyum dengan manis. Namun ketara betul bahwa ia tak ingin membahas perasaannya kepada seorang penjaga rental DVD yang bahkan ia pun tak tahu siapa namanya.
“Jangan kapok, donk, Mbak.”
“O ya? Kenapa?” Si gadis kembali bertanya, “Takut saya gak bakal minjem DVD lagi di sini?”
Firman tertawa, “Itu salah satu penyebabnya. Tapi...”
“Tapi apa?” sang gadis mengerutkan kening, membuat Firman setengah mati merasa gemas.

“Cinta itu terlalu indah. Sayang aja kalau gadis secantik Mbak, kapok jatuh cinta. Pasti banyak cowok di luar sana yang patah hati...!”
Gadis itu tergelak. Sambil mengambil bungkusan DVD, ia melambai, “Mas bisa aja.”
Firman tersenyum memandang punggung si gadis yang berlalu pergi.
Namun sebelum sampai di depan pintu, punggung itu tiba-tiba berbalik.
“Makasih, ya, Mas....”
Dan gadis itu kembali berlalu.

***

Entah sejak kapan Firman jatuh cinta pada sang gadis. Tapi rasanya, kalau Firman tak salah ingat, semenjak gadis itu pertama kali melangkah masuk ke dalam rental DVD itu, di mana ia telah setahun belakangan ini bekerja. Gadis itu memiliki rambut panjang dan senyum termanis yang membuat Firman langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Semenjak itulah ia selalu menanti dengan sabar, siang dan malam, untuk melihat kembali senyum sang gadis dan percakapan basa-basi mereka mengenai film yang akan dipinjam si gadis.
Namun Firman puas. Ia bahkan menolak untuk kembali mencari kerja di tempat yang lebih baik. Firman tak pernah menyesal. Baginya, pekerjaan inilah yang ia butuhkan. Ia bahagia, asal dapat terus bertemu dengan sang gadis impiannya....

Pintu terbuka saat Firman sedang tenggelam dalam lamunannya.
Firman menoleh, tak menyangka ia akan menemukan senyum si gadis yang tadi tengah diimpikannya, kini menyapa tepat di hadapannya.
“Mas,” sapanya ramah.
“Eh,” Firman mencoba untuk menutupi kegugupannya, “Mau pinjem apa, Mbak?”
Si gadis berjalan berkeliling, meneliti jajaran cover DVD di sepanjang dinding. Firman memandangi sosok itu dengan lekat, seakan tak ingin melepaskannya dan ingin agar gadis itu terus berada di dekatnya.
“Film yang bagus apa, Mas?” Si gadis berbalik.
“Tergantung... Mbak mau nonton film yang kayak apa?”
Si gadis tersenyum, “Kalau film yang Mas suka, apa?”
Firman tercekat. Apa benar ini bukan mimpi? Apakah sang gadis tadi benar-benar menanyakan apa film yang ia suka?
Firman langsung tersenyum lebar. Ini adalah momen yang telah lama dinantinya. Saat di mana ia akhirnya bisa ngobrol dengan sang gadis impiannya. Berdua. Walau masih seputar masalah film, Firman tak keberatan.
“Saya suka Crash,” jawab Firman.
“Yang menang Oscar?”
Firman mengangguk, “Filmnya bagus lho! Atau, Mbak mau nonton yang new release?”.

Si gadis mendekat, terlihat sangat tertarik, “Kalau Lady in the Water?”
“M. Night Shyamalan?” jawab Firman cepat, “Saya lebih suka The Village. Lebih original.”
Si gadis tersenyum.
“World Trade Center aja!”
Firman dan si gadis menoleh. Seorang pemuda bertubuh tegap baru memasuki ruangan. Ia langsung merangkul sang gadis dari belakang, membuat Firman terpaku.
“Gak mau, ah, serius gitu!” rajuk si gadis, “My Super Ex-Girlfriend aja, ya?”
Firman menunduk, mencoba menghindari kemesraan yang sedang berlangsung di depan matanya.
“Jadi gimana, nih? Mau pinjem apa?”
Si gadis menatap kekasihnya.
“Ya udah, pinjem dua-duanya aja, Mas,” kata si pemuda akhirnya, sambil berjalan keluar, “Aku tunggu di mobil ya, Sayang....”
Si gadis mengangguk, jengah melihat tatapan Firman yang dibakar cemburu.
“Pacar barunya, ya?” Firman mencoba bersikap netral. Namun kata-kata yang keluar dari mulutnya malah terdengar sarkasitik.
Gadis itu tersenyum, “Bukan. Itu pacar saya yang dulu.”
Firman membelalak kaget, “Yang waktu itu bikin Mbak kapok jatuh cinta?”
Gadis itu mengangguk.
“Kenapa...?”.

“Karena cinta terlalu indah,” jawab si gadis sambil tersenyum lembut, “Sayang kalau saya harus kapok jatuh cinta.”
Firman tertegun. Ya, cinta memang terlalu indah. Terlalu indah untuk menjadi sebuah obsesi, terlalu indah untuk menjadi alasan hadirnya rasa cemburu.
Gadis itu menggenggam tangan Firman. Sambil tersenyum, ia berbisik pelan, “Makasih, ya, Mas...”
Firman mengangguk, membalas senyum itu dengan tulus.
Sang gadis impian itu kini berlalu, bersama sebuah cinta yang kini menantinya di luar sana. Namun Firman tidak marah, atau cemburu, apalagi sampai kapok jatuh cinta.
Firman hanya yakin, ia akan menemukan cinta yang indah itu bersama seorang gadis impian yang memang ditakdirkan untuk bersamanya.

Melodi Cinta Topan dan Viela

“Mau ke mana, Pan?’ sergah Roni saat dilihatnya Topan buru-buru beranjak dari bangkunya.

“Lo kayak nggak tau aja, sebentar lagi malaikat cerewet itu nongol, mending gue nyari udara seger di luar. Ntar kalo ada yang bisa lo bantu, bantuin gue ya?”
“Enak aja lo!” sungut Roni.

“Kan lo temen gue yang baik.”
“Iya deh, iya. Gue tau lo di luar lagi ngincer Viela, kan? Moga-moga aja lo ditolak, biar minum racun serangga, lo!”

“Ha ha ha! Nggak mungkin Meeennn!” Topan buru-buru ngacir keluar.

Bukan cuma guru Killer itu yang jadi alasan Topan, tapi karena jam ketiga ini, Viela praktek olahraga, jadi Topan bisa ngegodain cewek itu dari jauh sambil ngeliat body-nya yang keren, kakinya yang mulus dan terutama senyumnya yang bikin Topan Puyeng itu.
Baru saja Topan sampe di lobby, anak anak kelas Viela baru saja berhamburan dari kelasnya, suara mereka berisik, seperti burung yang dilepas dari kandangnya. Topan celingukan nyari Viela, parkit lincah berkaki mulus yang punya senyum lebih legit dari brownies itu.

Nah itu dia….

“Eh, sempit tauk, enam juta penduduk Jakarta berjubel kayak ikan dalam kranjang….”

“Kayak petugas sensus aja, lo!” ketus Topan sama cewek gendut yang sengaja nabrak Topan dari belakang, sekretaris kelasnya Viela. Terang aja, Topan menghalangi jalan cewek itu yang gak mau ribet dihalang-halangi, yang katanya sih udah lama setengah mati diet buat ngurusin badannya.

“Liat-liat dong kalo jalan, orang segede aku gini kok gak kelihatan,” sengit Topan saat cewek gemuk itu masih berkacak pinggang di depannya.

“Eh, elo yang gak liat, celingak-celinguk… nyari siapa lo? Hmm, gue tau, lo mau lihat paha kita-kita kan.”

“Paha…? Paha siapa?”

“Paha sapi!”

“Emang paha lo gede kayak paha sapi!” Topan ngacir.

“Eh brengsek, gue smackdown lo baru tau rasa…!!”

Topan terus ngacir sambil ngetawain tuh cewek.

Tak jauh di depan, Viela lagi jalan gandengan sama teman-temannya. Jantung Topan berdebar kencang, inilah cewek yang membuat Topan berani mengorbankan pelajaran Bu Rani, guru Bahasa Indonesia yang galak banget bin cerewet itu. Daripada bete nerima pelajaran Bu Rani, mending nyari pemandangan seger di luar, begitu pikir Topan.

“Pan!” Arief tiba-tiba narik tangan Topan.

“Eh Rif, sorry, gue nggak ngeliat lo. Eh salam gue kemaren gimana?” Tanya Topan berbisik ke kuping Arif.

“O… salam lo….”

“Udah lo sampein, kan?”

“Udah, dia cuma senyum doang.”

“Senyum? Gak ada yang laen?”

“Gak ada, malah….” Arif ketawa.

“Maksud lo dia ngetawain gue?’

“Ntar gue sampein lagi yang serius deh….”

“Sialan lo!” Topan buru-buru ninggalin Arif, tapi saat berbalik, jantung Topan berdebar lagi dengan kencang saat melihat siapa yang sudah berdiri di depannya, dengan celana training yang pendek ketat. Dia menyapaku? Pikir Topan gembira.

“Viel….”

“Ada apa Pan, penting banget kayaknya…?’

Mmm… salam gue gimana?” tembak Topan langsung sambil mamerin senyum cute-nya dan tentu saja matanya yang penuh dengan cinta….

“Yang disampein Arif kemaren?”

“Mmm… iya.”

“Sementara gue tampung dulu ya, tunggu aja deh….”

“Kayak kotak saran aja ditampung dulu,” canda Topan sambil garuk-garuk kepalanya yang gak gatal, salah tingkah. Meskipun jawaban yang terlontar dari bibir mungil Viela kurang menyenangkan, tapi Topan menganggap itu masih lebih bagus daripada dicuekin. Saat Viela berlari-lari menuju lapangan, Topan masih bisa menikmati kaki bagus yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu, yang rambut panjangnya tergerai seakan berkata, “kejarlah daku topan… ntar kamu kujitak.”

***

“Topan….”

“Ya Bu…,” Topan kikuk, sebel.

“Kenapa kamu suka bolos kalau saya masuk?” Ibu Rani muncul, padahal bukan jam pelajaran dia di kelas Topan.

“Pelajaran saya tidak kamu sukai, katanya haree geneee masih belajar bahasa Indonesia, kan dari bayi udah bisa bahasa Indonesia. Iya, kamu yang ngomong begitu?”

“Nggak Bu, bukan saya.”

“Jadi siapa?”

“Roni, Bu, dia juga gak suka sama pelajaran Ibu.”

“Suka Bu, Topan fitnah!” balas Roni teriak.

“Ayo Topan, kenapa kamu tidak suka sama Ibu?”

“Dia lagi jatuh cinta, Bu. Sama anak dua A3, namanya Viela. Pas pelajaran Ibu mereka olahraga, Topan milih keluar melihat pemandangan alam katanya, Bu.”

Seisi kelas riuh menertawai Topan.

“Apalagi anak-anak dua A3 kalo olahraga hobi pake celana dan tank top ketat, Bu!” Tambah Muti yang udah lama diem-diem naksir Topan tapi nggak pernah direspon Topan.

“Jadi karena alasan itu kamu tidak suka pelajaran Bahasa saya? Ya Topan?” serang Bu Rani.

“Bukan begitu, Bu.”

“Katanya Ibu juga galak, mulut Ibu bawel!”

“Eh, kambing, lo!” ketus Topan.

“Muti, jaga mulutmu, ya!” pelotot Ibu Rani.
Seisi kelas tambah riuh.

“Mulai sekarang Ibu tidak mau lagi ada anak yang bolos di jam pelajaran Ibu, Cuma gara-gara naksir cewek, pelajaran diabaikan, mau jadi apa kalian, pacaran aja yang diurusin. Sebentar lagi Ibu masuk, kalian tunggu dan tak ada yang boleh kaluar! Ngerti?”

“Ngerti Buuu…!!!” jawab seisi kelas.

Topan garuk-garuk kepala, dia gagal kali ini ketemu Viela, dan terutama menghindari pelajaran Bu Rani.

***

“Pan… pan, elo mau traktir gue apa nih?” Roni yang baru abis dari kantin teriak-teriak mencari Topan.

“Ada apa Ron?” Tanya Topan penasaran.

“Traktir gue, pokoknya sampe kenyang!”

“Beres, tapi apa dulu dong?”

“Viela….”

“Kenapa Viela?”

“Tapi traktir gue, ya.”

“Beres, apa aja lo minta deh, pokoknya kalo soal Viela beres….”

“Salam lo diterima, Tanya Arif kalo nggak percaya, dia juga nyampein ke Arif, tapi karena gue temen sekelas lo, katanya biar lebih cepet, gue aja yang nyampein.”

“Hah... yang bener?”

“Katanya dia suka sama cowok kayak lo, cuek, cute, berani, ngocol, nekat, dan banyak deh komentarnya.”

“Ah... yang bener lo, Ron!?”

“Samber gledek lo sendirian, kalo gue bohong.”

“Jangan gue sendiri, bareng-bareng dong.”

“Terserah deh pokoknya, usul gue, lo tembak langsung aja, jeger! Jeger! Jeger! Pulang ntar lo barengin ya, sekalian janjian, ntar malam kan malam minggu. Kalo nggak lo bisa keduluan gue!”

“Jeger jeger, memangnya nembak celeng.”

Topan bangkit dari duduknya.

“Yessss!!!” teriaknya keras, sampe ludahnya berhamburan ke wajah Roni.

“Sialan lo Pan, hujan lokal nih.”

“Sori... sori, lo tunggu gue, gue traktir semuanya sekarang juga!” Topan lari keluar kelas.

Roni dan anak-anak yang sudah hadir di kelas langsung tereak kegirangan. Beberapa menit kemudian Topan muncul, dikira Topan bawa makanan enak seperti brownies kukus dan lemper isi abon dari kantin Bu Sarmila, gak taunya singkong, ubi, gemblong segede-gede sandal jepit yang biasa dijual di warung kopi Kang Jaja yang ada di luar sekolahan.
Kontan aja beberapa potong ubi goreng melayang di udara mengenai kepala Topan dan Roni.

Malam Minggu, Topan siap-siap apel. Viela bukan cuma nerima salam Topan, tapi juga udah nyuruh Topan datang malam Minggu. Dengan kemeja kotak-kotak biru, celana jeans sedikit belel, sepatu Cole cokelat kulit kanguru, Topan tampak keren dan macho. Topan dengan gembira melangkah keluar rumah, senyumnya cerah, seperti langit malam yang penuh dengan bintang-bintang.
Sampai di rumah Viela, dada Topan berdebar tak karuan, tapi sekuat tenaga berusaha ditentramkannya. Topan segera memencet bel di pintu pagar yang sedikit dipenuhi semak bunga bougenville. Beberapa detik kemudian muncul Viela, rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, dia memakai jeans sebatas lutut yang ketat dengan atasan T-shirt tak berlengan.

“Hai, Pan, yuk masuk!”

Topan melangkah masuk, debar jantungnya makin bertalu, tapi berusaha ditentramkannya.

Sehabis menyalakan lampu teras, Viela menyilakan Topan duduk.

“Bentar ya, Pan. Aku mandi dulu.”

“Loh, emangnya kamu belum mandi?”

“Belom, abis kamu kecepetan sih datangnya, baru aja jam tujuh.”

Topan melirik jam tangannya.

“O iya ya, masih sore….”

“Nggak pa pa sih, cuma kamu semangat banget ya kelihatannya, hi hi hi!” Viela terkikik geli.

Topan garuk-garuk kepala.

“Mau minum apa, Pan? Teh, kopi, atau mau yang dingin, atau air putih aja.”

“Mm… nggak usah repot-repot deh, air putih aja.”

“Wah kebetulan, emang adanya cuma air putih kok.” Masih sambil cekikik geli Viela lalu berlenggak-lenggok masuk ke dalam.

Topan garuk-garuk kepala lagi. Kena dia…
.
Nggak lama kemudian Viela muncul, udah ganti baju yang lebih rileks, nyante banget, Cuma wajahnya kini dipolesi bedak tipis dan bibirnya merah seger dipakaiin lipstick glossy. Topan terpana….

“Ngomong dong Pan, kok jadi salah tingkah kelihatannya?”

Topan yang biasanya jago ngocol masih terus salah tingkah, bibirnya bingung mo bicara apa yang enak. Tapi alangkah kagetnya Topan saat kemudian muncul pembantu membawa nampan berisi dua gelas air putih dan menyilakannya untuk minum yang dihidangkannya.

“Trima kasih ya, Ma. Kok cuma air putih Ma, kue-kuenya mana?”

Sekujur tubuh Topan kejang-kejang. “Bu Rani….”

“Masih mending air putih, bisa dipake dukun buat ngobatin orang, untung nggak Mama kasih racun serangga sekalian tadi.”

“Ih Mama, jahat banget….”

Bu Rani dengan bergaya pembantu lalu balik ke dalam.

Viela tersenyum geli.

“Ayo Pan, diminum, kenapa?”

“Mm… gue… gue pulang aja deh, Bu Rani… Bu Rani itu nyo….”

“Lo, emangnya kamu nggak tau kalo Bu Rani Nyokap gue?”

Topan geleng-geleng kepala. “ Nggak… gue baru tau sekarang. Sumpah, samber gledek bareng-bareng….”

“Ya udah, nyokap gue baek kok orangnya….”

“Bukan begitu Viel, tapi gue….”

“Gue ngerti, kamu sebel banget sama pelajarannya kan, juga orangnya kan?”

“Viel, jadi kamu membalas salam gue dan nyuruh datang malam Minggu supaya gue dikerjain sama nyokap kamu, terus supaya besok-besok gue nggak nakal lagi dan Nyokap kamu jadi nggak repot lagi ngurusin anak bandel kayak gue?”.

“Doo… yang perasaan, bukan begitu maksudnya Pan. Kamu gue suruh ke mari malam Minggu karena kamu cowok istimewa buat gue. Soal Bu Rani yang lo sebelin itu kebetulan nyokap gue, kan cuma kebetulan doang. Sekarang tinggal kamu, gimana menurut kamu persoalan kita, kamu suka tantangan, kan?”

Topan diam sesaat. “Tantangan apa dulu, kalo ditantang Chris Jhon sih gue nyerah,” Topan berusaha bercanda.

“Ya ngambil hati nyokap gue, dong.”

Topan berdiri. Viela terlihat kecewa.

“Salam deh buat Bu Rani, malam Minggu depan kalo gue apel lagi, gue bawain apel.”

“Jangan cuma apel, Pan. Martabak keju kesukaan nyokap gue juga….”

“Mmm… iya deh.” Pantesan Bu Rani gendut, demen martabak keju sih, pikir Topan dalam hati ngedumel.

Dan malam Minggu yang indah pun berlalu, tapi juga malam yang bikin Topan serba salah. Tadi Topan maunya pulang agak maleman, tapi Topan ngeliat Bu Rani sering ngintip dari gorden pembatas ruangan, matanya melotot galak.

***

Topan berubah jadi cowok paling kalem sedunia sejak dia sadar kalau Viela adalah anak Bu Rani yang disebelinnya, biarpun Topan udah kalem dan selalu hadir nomer satu di pelajaran Bu Rani, tetap saja dia harus mengambil hati Bu Rani, caranya udah dijalani Topan dengan membawa sekeranjang apel New Zealand dan martabak keju, juga martabak telor. Eh itu malah bukannya membuat Bu Rani senang, tapi dianggapnya sesuatu yang melecehkan baginya.

“Kamu nggak usah bawa-bawa apel segala, martabak segala, Ibu tahu kamu suka sama Viela, tapi bukan dengan cara membeli saya, emangnya saya bisa ditukar sama martabak?”
Topan cuma diam.

“Kalau kamu tahu, sejak SMP Viela sebenarnya sudah saya jodohkan.”

“Dijodohkan Bu, sama siapa? Sama saya?” Topan tersentak.

“Sama kamu? Anak nggak pintar kayak kamu kok mau dijodohin sama anak saya.”

“Jadi mau dijodohon sama siapa, Bu?” Tanya Topan hati-hati.

“Mau tau aja!”

Bu Rani juga selalu melirik Topan kalau dia melihat Topan sedang menunggu Viela di depan kelas. Jalan ke kantin, pulang bareng, semua ulah Topan dicurigai. Topan jadi pusing. Menunggu Bu Rani pensiun masih lama, dipindahin sama pemerintah ke Papua, nggak mungkin. Coba kalo gue dulu gak sebel sama Bu Rani, mungkin nggak begini jadinya, sesal Topan. Meskipun Bu Rani kelihatannya baik, dan agak suka becanda, tapi batinnya, Topan ngerasa dia menolak keras, nggak nerima anaknya dipacarin, apalagi lewat jalan belakang.

“Pan!” tiba-tiba Roni menepuk bahu Topan dari belakang.

“Topan kaget, disikutnya perut Roni. “Ganggu gue aja lo, sono,” hardiknya.

Lalu Roni cekikikan melihat buku Bahasa Indonesia Topan yang disampul rapi banget, kayak buku anak kelas 1 SD.

“Kusut amat lo Pan. Udah deh, lo cari aja cewek laen, Viela emang cakep, tapi nyokapnya. Gue heran, Viela cakep, nyokapnya kok ancur. Bokapnya kali keren, ya, Pan?”

“Nggak tau gue, gue nggak pernah ketemu bokapnya.”

“Kalo lo nyium Viela, terus kebayang bibir Bu Rani yang lebar itu, sama aja nyium bibirnya Bu Rani, lo.”

“Brengsek, lo, Ron.”

Roni cekikikan.

Tiba-tiba Viela muncul di depan pintu, tersenyum. “Gue denger apa yang kalian omongin. Ntar malam Minggu ke rumah ya Pan, ada hal penting yang mo gue omongin.”
“Soal apaan Vi?”

“Sekarang apa ntar malam?”

“Sekarang aja deh,” desak Topan.

“Oke… dengerin ya. Bu Rani itu sebenarnya bukan nyokap kandung gue, dia Ibu angkat gue.”

“Maksud lo?”

“Maksudnya lo nggak usah lagi mikirin Bu Rani meskipun dia nggak suka sama lo, gue sendiri suatu saat nanti akan nentukan masa depan gue sendiri, kebetulan aja Bu Rani jadi nyokap gue, tapi dia memang baik dan sayang banget sama gue, udah bikin gue segede ini, seksi lagi.”

“Lantas nyokap kandung kamu di mana?” Tanya Roni penasaran.

“Gue anak adopsi.”

“Adopsi dari mana?” kejar Roni lagi, sementara Topan masih nggak percaya kalau Viela yang dicintainya nggak jelas asal-usulnya.

Viela tertunduk, wajahnya tiba-tiba sedih, Topan dengan prihatin mendekati Viela dan membelai rambutnya. “Maafin Roni, Viel. Dia kalo nanya nyeplos aja.”

Viela menggeleng. “Nggak apa apa kok, Pan. Nyokap pernah cerita, yang ngelahirin gue seorang Ibu kurang mampu, Ibu itu nggak punya uang buat nebus biaya melahirkan, seminggu setelah melahirkan, katanya dia pergi minjam uang ke saudaranya dan menitipkan anaknya sementara di rumah sakit, tapi kemudian dia nggak pernah balik lagi ke rumah sakit. Terus gue diambil Bu Rani. Kata suster di rumah sakit, perempuan yang ngelahirin gue cakep, terbukti kan, gue cantik….” Viela berusaha tersenyum.

Topan juga tersenyum, kembali dibelainya rambut Viela. Kalau cuma Bu Rani penghalang mencintai Rani, kecil, nggak ada apa-apanya, tegas Topan dalam hati, tapi Bu Rani kan udah berjasa ngebesarin Viela, lagian kasihan Bu Rani, sampe sekarang dia belum menikah juga, padahal umurnya udah hampir lima puluh tahun. Tiba-tiba terbersit rasa kasihan yang dalam di hati Topan kepada Bu Rani, sementara cinta dan kasih sayang yang dirasakan Topan kepada Viela pun tambah menggunung, dan Topan ingin selalu melindunginya setiap saat.

“Topan!” Bu Rani tibatiba sudah berdiri di antara mereka, matanya melotot.

Topan gugup.
“Gue gak ikutan!” Roni langsung menjauh.
Tapi Topan segera menangkap tangan Bu Rani dan menciumnya. “Topan janji akan menjaga Viela Bu, Topan nggak akan bolos lagi, Topan juga mau kalau dijadikan anak angkat Bu Rani, Topan senang sama pelajaran Bu Rani….”
Bu Rani menarik-narik tangannya tapi Topan terus menciumnya, hingga akhirnya Bu Rani Luluh dan membiarkan tangannya diciumi Topan, sementara Viela tersenyum senang, Topan pasti bisa mengambil hati Bu Rani, mamaku tersayang, yakin Viela dalam hati sambil menahan senyum melihat ulah Topan yang masih terus menciumi tangan Mamanya..

Demi Valentine


“Apakah gue harus mencuri uang?” Sebersit pikiran kerap mengganggu pikiran Domie, setiap kali ia merasakan jalan buntu.
Satu-satunya barang berharga yang dimiliki cuma telepon genggam, hadiah ulang tahun dari ibunya setahun yang lalu. Jika tiba-tiba benda itu raib, tak cuma Ibu, tapi seisi rumah pasti akan geger mempermasalahkannya. Dan tipis harapan untuk bisa memiliki lagi sebuah ponsel.

“Jika anak-anak lagi istirahat, atau pas jam olahraga di lapangan, gue bisa menyelinap masuk ke kelas dan mencuri uang dari salah satu tas,” pikir Domie lagi. Ia tahu, banyak anak orang kaya yang ke sekolah bawa uang ratusan ribu. “Tapi kalo katahuan? Resikonya gede, bisa dikeluarin dari sekolah. Dan malunya itu!”
Domie tentu saja tak ingin berbuat konyol. Mencuri bukan cuma konyol, tapi dosa besar. Domie cepat-cepat menepis pikiran jahat itu. Uang memang harus ia dapatkan, tapi mesti dengan cara yang halal.

“Dom, elo liburan mau ke mana?” tanya Zetta, yang batal keluar dari kelas ketika dilihatnya Domie masih terpekur di bangkunya.

“Ke mana, ya? Nggak kepikiran sama sekali, Zet. Elo sendiri?” Domie balik bertanya pada teman sekelas sekaligus tetangga dekatnya itu. Zetta tinggal satu blok dengan Domie.

“Gue kayaknya harus ngungsi ke rumah Tante di Depok.”

“Emang kenapa? Takut banjir? Emang daerah kita banjir? Enggak, kan?”.

“Enggak, sih. Tapi kebetulan sebentar lagi rumah mau direnovasi. Nyokap pengen kamar anak-anak dipisah semua. Enak juga ngebayangin bakal punya kamar sendiri, jauh dari usilnya si Beng, adik gue itu. Tapi jadi repot selama rumah dibenahi. Mendingan gue ngungsi aja, daripada ntar terpaksa bantu-bantu jadi kuli bangunan. Hi hi hi....”
Domie cukup kenal dengan keluarga Zetta. Mereka keluarga paling kaya di Blok H. Sebersit pikiran muncul di benak Domie.

“Emang siapa yang bakal ngerenovasi, Zet?”

“Paling juga tetangga-tetangga kita sendiri. Atau orang-orang dari kampung belakang. Kayaknya sih bukan pekerjaan yang berat. Paling juga makan waktu seminggu, pas sama masa liburan kita. Jadi ntar, sepulang dari Depok, rumah udah beres lagi.”

“Bagus deh kalo gitu,” kata Domie.

“Bagus apanya?”

“Eh, elo jadi punya alasan untuk liburan ke Depok.”

“Elo mau juga?”

“Mau apa?”

“Liburan ke Depok.”

“Maksud elo?”

“Yaaa, siapa tahu elo mau nganter gue ke sana.”
Domie tercenung sebentar. “Kayaknya enggak deh, Zet.”
Zetta cemberut.

“Gue mendadak ada rencana baru buat ngisi liburan kita nanti.”

“Uh? Kok mendadak? Elo ngiri, ya?”

“Nggak! Bukan! Gue emang punya rencana.”

“Pasti elo mau nyusun karya tulis, buat diikutin Lomba Karya Ilmiah pertengahan tahun nanti, ya? Ya udah, kerjain aja!” Zetta mendengus kesal dan meninggalkan Domie. Domie cuma mengawasi cewek manis itu menghilang di luar kelas.

Tante Zelda mengawasi cara kerja Domie yang cekatan. Meski bukan seorang tukang cat profesional, Domie terlihat bisa belajar dengan cepat. Ia menggerakkan kuas dengan benar, membuat hampir tak ada setitik pun cat yang menetes di lantai.

“Yang di kamar anak-anak warnanya pink, ya.” Tante Zelda mengingatkan. “Gudangnya tetep kuning aja, biar terang.”

“Iya, Tante.” Domie menjawab sambil terus menyapukan kuas cat ke tembok. Sebenarnya Domie agak gugup ditunggui Tante Zelda. Di rumah ini ada dua orang tukang batu dan tiga tenaga serabutan, tapi Tante Zelda lebih sering mengawasi dan menunggui Domie bekerja. Pasti karena Tante Zelda merasa paling dekat dengan Domie.

“Mungkin juga karena kasihan,” pikir Domie.

“Kamu nggak dimarahi orangtuamu, Dom?”

“Enggak, Tante. Bapak dan Ibu justru senang karena saya mau bekerja. Jadi kuli juga nggak apa-apa, yang penting halal.”

“Iya, ya. Lagian bagus juga kalo masih semuda kamu udah mau bekerja. Cuma, apa nggak sayang karenanya kamu jadi kehilangan acara liburan sekolah kamu?”

“Kebetulan saya nggak ada acara, Tante. Liburan cuma diam di rumah terus juga bosen. Eh, Zetta sama Beng kapan pulangnya?”

“Katanya sih Sabtu sore, dianter tantenya sendiri. Senin, kalian udah masuk sekolah lagi, kan?”
Domie mengangguk. Lalu, “Tapi janji ya, Tante. Tante nggak usah bilang-bilang ke Zetta bahwa saya jadi kuli di sini.”

“Lho, siapa bilang kamu jadi kuli? Kamu jadi tukang cat, dan nyatanya kamu bisa bekerja dengan baik. Kamu bakal nerima upah yang sepadan, karena hasil pekerjaanmu emang baik.”

“Iya, tapi tolong nggak usah bilang saya kerja di sini, ya....”

“Kenapa? Malu? Pekerjaan halal kok malu! Di negeri ini banyak yang sukanya mencuri uang rakyat tapi mereka pada nggak malu.”

“Kok Tante ngomongnya jadi ke mana-mana?” Domie menghentikan gerakan kuasnya. “Saya memang malu kalo ketahuan Zetta saya kerja di sini. Kalo aja Zetta nggak pergi liburan ke Depok, belum tentu saya sanggup meminta pekerjaan di rumah ini.”.

Tante Zelda menganguk-angguk paham. Ia bisa memaklumi jalan pikiran Domie. “Ya wis, kamu terusin kerjamu. Tante tinggal dulu untuk nengok kerjaan Pak Rodi, ya? Kalo udah waktunya makan siang, kamu harus makan. Ambil aja sendiri di meja makan dalam. Kamu nggak usah makan bareng mereka. Oke?”

“Oke, Tante!” Domie merasa senang karena ia sangat diistimewakan di rumah ini.
Domie meneruskan pekerjaannya dengan hati riang. Semangatnya kian tumbuh ketika ia membayangkan satu masalah akan segera dapat diselesaikannya. Kado Valentine yang akan dipersembahkannya buat Laudia bukan lagi impian kosong semata.
Sebuah arloji berbentuk hati seharga tiga rutus ribu rupiah itu adalah hadiah paling pas buat Laudia di hari Valentine. Hadiah yang harus ditebus dengan hasil kerja keras dan keringatnya sendiri.
Lagi-lagi Domie tersenyum.
***

Sebuah keributan terdengar dari luar.

“Gue bilang juga apa? Anak kecil maunya ikutan mulu! Damn! Sekarang apa coba? Baru juga tiga hari udah merengek-rengek minta pulang! Dasar!”

“Udah deh, sabar juga kenapa sih? Beng emang nggak mungkin bakal tahan terlalu lama kalo nggak dikelonin emaknya!” suara Tante Zelda.
Suara yang satunya lagi siapa?

“Tau begini mendingan dulu nggak usah ikut. Nyesel tujuh turunan deh gue ngajak Beng.”
Zetta?

“Ya udah, kamu boleh balik lagi ke Depok. Beng biar di rumah aja.”

“Huh, liburan tinggal tiga hari ngapain balik ke Depok! Tanggung!”

Ya, siapa lagi pemilik suara cempreng itu kalau bukan Zetta..

Zetta! Oh my God, itu memang Zetta!

“Mau ke mana, Sayang?”

“Nengokin calon kamar baru gue!”

“Eh, tunggu!!! Sini, kita makan dulu. Kamu belum makan, kan? Ini Mama bikin udang saus tiram kesukaanmu. Tunggu!!!”

“Makan aja sama Beng-Beng! Dasar anak mami!”

Terdengar suara kaleng cat kosong terjatuh. Mungkin Zetta sengaja menendangnya.

“Ya Allah!! Dom???!!! Ngapain elo di kamar gue?”

Domie tak berkutik, turun dari tangga segitiga dengan wajah pucat.

“Gue kerja di rumah elo, Zet.”

“Yaaah elo ini! Surprais banget, Dom. Tapi kenapa juga elo nggak bilang-bilang dari dulu. Kalo tau elo bakal ikutan kerja di sini, ngapain juga gue capek-capek ke Depok!” Zetta menatap Domie dengan takjub plus sesal. “Kan gue bisa bantu-bantu elo, Dom. Kita bisa ngobrol juga.”

“Gue... gue malu, Zet. Gue malu kalo ketahuan gue jadi kuli tukang cat di rumah elo sendiri.”

“Ngapain malu? Halal, kan? Daripada mencuri! Gue malah salut, karena elo mau kerja keras. Elo nggak cengeng, nggak jaim kayak teman kita yang lain.”

“Persis seperti ucapan ibunya tempo hari,” batin Domie. “Ibu dan anak sama-sama berhati mulia”

“Tapi tunggu dulu, Dom! Gue jadi curiga sekarang. Elo ini bukan dari keluarga yang pas-pasan. Ortu elo dua-duanya kerja. Bokap elo guru, nyokap elo pegawai negeri juga. Lalu buat apa elo memeras keringat kayak gini?” Zetta menatap Domie tanpa berkedip. Matanya penuh selidik. “Elo cuman mau nyari sensasi, atau ...?”

“Gue kepepet, Zet.”

“Punya utang maksud elo?”

“Bukan! Gue kudu ngumpulin duit buat beli kado Valentine’s Day bentar lagi.”
Zetta makin melotot. “Hah? Jadi elo lagi mgumpulin duit buat beli kado Valentine?!”

“Iya,” jawab Domie datar. “Nggak mungkin juga kan gue nodong ortu buat beli hadiah untuk...”

“Pacar elo? Elo punya pacar, Dom?”

“Gue mau nembak, Zet. Kayaknya pas banget kalo manfaatin moment Hari Kasih Sayang nanti.”

“Siapa cewek sial yang bakalan elo tembak, Dom? Siapa perempuan malang itu?” Zetta berpaling menyembunyikan wajah pucatnya.

“Laudia.”

“Hah?! Laudia?”.

“Iya. Emang kenapa?”

“Anak kelas 11 B itu, kan?”
Domie mengangguk pasrah.

“Pantesan kalo gitu. Pantesan elo bela-belain kerja keras pas libur sekolah kayak gini. Nggak taunya elo emang punya tujuan yang menurut gue rada mustahil. Emang elo mau hadiahi apa?”

“Arloji hati, harganya tiga ratus ribu perak,” kata Domie apa adanya. Kepalang basah, ia harus mengatakan semuanya pada Zetta. Domie berharap, Zetta bisa memberinya masukan yang berguna.

“Aduh, romantisnya!” jerit Zetta dalam bisikan. Zetta berharap, Domie tidak mendengarnya.

“Menurut elo gimana, Zet? Cocok enggak? Kalo warnanya pink keliatan norak enggak, sih? Atau malah cocok sama nuansa Valentine?”

“Terserah elo aja!” Zetta keluar dari kamar yang pengap oleh bau cat itu dengan wajah tak sedap dipandang.
Domie terlongong.

Tapi tiga detik kemudian Zetta kembali masuk ke kamar itu.

“Elo ini tolol atau gimana sih, Dom? Elo tau enggak sih, Laudia itu siapa? Dia itu bintang sinetron! Artis! Seleb!”
Domie tersentak melihat betapa marahnya Zetta.

“Lalu elo ini siapa? Cuma anak guru, murid biasa, bukan siapa-siapa! Ngaca doooonk...!!!”
Memucat wajah Domie. Tapi sebelum ia bisa berkata-kata, mendadak Zetta sudah berlari meninggalkannya.
Domie tak tahu, di kamar yang lain Zetta tengah menangis tersedu-sedu menyesali nasibnya. Hatinya hancur lebur. Zetta tengah membayangkan betapa indahnya hidup ini jika ia yang akan menerima perhatian dan usaha yang begitu gigih dari Domie.
Domie memang tak pernah tahu bahwa selama ini Zetta begitu mengagumi dan mengharapkan cintanya..

07.50 - 1 comment

Antara Bolos, Acin & Tukang Cimol


SEBETULNYA gue bukan tipe anak bandel. Sebagai contoh aja, gue tuh belum pernah ikutan bolos atau madol dari sekolah. Tapi hari itu, entah setan apa yang membuat gue jadi setuju dengan ajakan Acin?

Acin ini teman sekelas gue yang lumayan kreatif tapi bandelnya minta ampun. Hampir setiap minggu pasti dia punya jatah bolos. Tapi hebatnya, sampai hari ini belum pernah ketahuan atau ketangkap basah sama guru.

Acin orangnya emang menarik. Selain sosoknya tinggi, dengan rambut lurus, wajah yang lumayan kiyut dan doyan cengar-cengir itu membuat sosoknya mudah dikenali.

Namanya memang unik, cukup satu kata; Acin. Tapi dia senang karena bisa berarti … ANAK CAKEP INDONESIA! He he he.

Tapi gosipnya, tu’ anak dilahirin waktu ibunya lagi flu berat, dan sering bersin … A-aciiin! Jadinya ya gitu, pas lahir langsung dikasih nama, Acin, deh! Hi hi hi.

“Gila, hari ini bawaannya ngantuk banget!” cerita gue ketika duduk di samping Acin. “Semalam nggak bisa tidur.”

“Mendingan cabut aja bareng gue,” tukas Acin enteng.
“Cabut?”
“Iya, abis istirahat pertama. Tas titipin ke Bu Romlah, ntar tinggal dilempar dari belakang dapur kantinnya dia. Gue udah biasa kok.”

Langsung terbayang keluar dari sekolah sebelum bel pulang, hmm... asyik juga. Gue bisa mampir ke warnetnya Tohari, mahasiswa teknik yang buka usaha warnet dekat rumah, bukannya mau browsing atau chatting tapi cuma mau numpang tidur di ruangan kompernya yang ber-AC itu.

Uuu, enak banget!
“Kalo mo ikut, cepet tas lo titip ke Bu Romlah.”
“Eh, t-tapi, gue belum pernah cabut.” Gue memang agak khawatir dengan ajakan itu.
“Lo harus ngerasain. Masak lo belon pernah madol, sih,” Acin malah memanasi. “Gimana lo bisa cerita ke anak-anak lo?”
“Eh, iya, sih. Tapi apa hubungannya sama anak-anak gue?”
“Ya, kalo lo udah merit, terus punya anak kan enak punya bahan cerita buat mereka.”
Gue manggut-manggut. Tapi anggukan kepala ini bukan berarti setuju, soalnya di dalam hati gue masih khawatir. Masak sih cuma gara-gara feel sleepy terus cabut dari sekolah. Nggak kuat banget alasannya.
Tapi anehnya pas istirahat gue ngikutin jejak si Acin menitipkan tas ke Bu Romlah. Ini artinya step pertama udah gue lakukan. Langkah selanjutnya manjat pagar sekolah. Ini langkah yang paling menegangkan.
Pagar sekolah lumayan tinggi, sekitar satu setengah meter, di atasnya ada kawat berduri, tapi sebagian udah pada bolong. Nah, rencananya kita mau molos lewat pager kawat yang bolong itu. Yang bikin deg-degan bukan karena tingginya pager dan bolongnya kawat berduri yang cuma pas sebadan, tapi kemunculan guru piket yang suka tiba-tiba ke situ…
“Gue naik duluan, ya,” kata Acin yang dengan sigap meloncat dan berpegangan pada bagian tembok.
“Terus?”
“Ya, elo!”
“Gue?”
“Siapa lagi? Kita kan cuma berdua!”
Acin naik dan dengan mudah saja memasukkan kepala ke sela pagar kawat berduri, dan sedetik kemudian dia pun sudah berada di luar pagar. “Hoy, cepet! Tas lo udah di sini, nih!”
Gue takut-takut, celingak-celinguk dulu, akhirnya manjat juga.

Untuk bisa meloloskan badan ke sela-sela pagar kawat rasanya seperti mau lari dari kejaran macan buas, deg-degan banget!
“Hei kamu!”
“Benar Cin, gue masih di atas ….”
“Hei kamu!”
Eh, itu bukan suara Acin? Gue lihat ke belakang, taunya suaranya Pak Brur!
“Hei kamu …!”
Gue berusaha tersenyum tapi Pak Brur malah melotot kejam. Gue sempat bingung, tapi akhirnya gue loncat ke luar. Di luar Acin udah nggak ada, dia udah kabur, cuma tas gue aja tergeletak sendirian di tanah.
SESAMPAI di warnetnya Tohari yang lagi sepi dari pengunjung gue nggak bisa tidur, malah mikirin gimana besoknya menghadapi Pak Brur yang terkenal galak itu. Udah gitu Pak Brur juga wakil kepala sekolah lagi. Gue jadi tambah pusing. Boro-boro bisa tidur-tiduran, ditawarin makan siang aja ama Tohari gue males!
BESOKNYA kekhawatiran gue jadi kenyataan! Gue dipanggil Pak Brur. Keringat ngucur dari jidat. Tapi untungnya Acin juga dipanggil, jadi ada temannya.
“Eh, Cin, gue, nggak cerita kalo cabut ama elo,” Gue khawatir Acin marah, tapi ternyata Acin cuek aja. “Tenang aja …”
Gue betul-betul salut melihat sikap dan gaya Acin yang cool banget menghadapi Pak Brur. Padahal di dalam ruang kerja Pak Brur yang sumpek – banyak buku-buku cetak bergeletakan, alat-alat olahraga, boneka peraga, baju seragam anak-anak yang masih diplastikin – kita berdua disembur abis-abisan, bahkan diancam dikeluarkan dari sekolah segala.
“Besok orangtua kalian harus menghadap!” titah Pak Brur menutup orasinya.
Ternyata bolos banyak menyisakan penderitaan. Bayangin, orangtua harus datang, bo! Duh, mana mungkin orangtua gue tau perbuatan ini?

Bokap gue tuh selain bisnisman juga seorang pemuka masyarakat yang lumayan terpandang. Nyokap juga orang sibuk. Mereka nggak percaya kalo anaknya dipanggil sekolah karena membolos. Bisa-bisa mereka marah besar ke gue! Aduuuh, gimana, dong?
Tapi Acin kelihatan santai.
“Cin, kok lo nggak panik, sih?”
“Gue udah dapat orangtua ….”
“Maksud lo?’
“Tukang somay ….”
“Tukang somay?”
“Iyalah tukang somay yang mangkal di pengkolan sana, dia tuh gue suruh datang menghadap Pak Brur, tinggal gue dandanin dan ngaku sebagai adik nyokap atau siapalah… pokoknya dengerin aja omongan Pak Brur, pasti beres!”
Gue manggut-manggut lagi. Kali ini gue nangkep maksud Acin.
Apakah jejak Acin yang ini gue tiru lagi? Apa resikonya nggak kalah syerem?
Lagi-lagi gue nggak abis pikir, karena sore itu juga gue samperin tukang cimol yang mangkal nggak jauh dari sekolahan. Tukang cimol ini lumayan bersih, dia berasal dari Jawa Barat tepatnya di dekat Cianjur sana, dan kalo gue kasih pinjem baju batik bokap gue, rasanya dia lumayan pantas jadi “paman” gue.
“Jadi teh saya harus jadi orangtua kamu? Apa pantas?”
“Hmm, bukan ortu, tapi paman! Iya, bilang aja lo adik bokap gue, dan bokap gue tuh nggak sempet datang ke sekolah … karena sibuk. Lo tinggal dengerin aja ocehan guru gue. Ntar lo gue kasih jigo, deh!”
“Tapi tidak lama kan? Soalnya dagangan cimol saya nggak ada yang nungguin.”
“Nggak lama! Cuma menghadap sebentar aja!”
“Iya, deh.”
“Ya, udah besok jam sembilan pagi lo ke sekolahan ya.”
“Baik, atuh.”
Otomatis pada jam pelajaran pertama gue jadi nggak konsen. Tapi Acin kelihatan tenang-tenang aja.
“Cin, ortu lo udah datang?”
“Udah, malah udah balik lagi.”:

“Nggak diapa-apain?”
“Enggaklah, cuma dinasehati aja, terus disuruh menanda-tangani surat perjanjian supaya gue nggak bolos lagi. Gitu doang.”
“Tapi si cimol itu bisa tanda tangan, nggak ya?” Gue jadi mikirin “paman” gue.
“Pasti bisalah, meskipun cuma dagang cimol pasti pernah sekolah …”
“Gue harap sih bisa….”
Jam sembilan teng! Jam pelajaran pertama abis. Gue langsung keluar untuk melihat “paman” gue, dan betul aja si tukang cimol udah nongkrong di depan gerbang sekolah, lagi ngobrol ama satpam. Gue langsung bilang ke satpam kalo doski tuh sodara gue.
“Maaf, saya kira orang mau minta sumbangan…” Kata si satpam tanpa perasaan.
Gue langsung nyeret si tukang cimol dan ngebisikin beberapa pesan, “Pokoknya lo nggak usah banyak omong, manggut-manggut aja, dan ngaku sebagai paman, adik dari bokap gue. Bilang bokap gue nggak bisa datang karena ada tugas ke luar kota …”
Si tukang cimol nampak mengerti.
“Lo bisa tanda tangan?”
“Ah, honor dua puluh lima ribu aja pake tanda tangan segala?”
“Eh, bukan untuk tanda tangan honor, tapi untuk menanda-tangani surat perjanjian. Ngerti kan?”
Dia manggut-manggut lagi. Ngerti.
Pas sampai depan kantor Pak Brur, si tukang cimol gue suruh masuk dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Siapa?”
“Saya pamannya ….”
“Pamannya siapa?”
“Bondan Pak.”
“Oh ya, kamu duduk. Mana orangtua kamu?”
“Tidak bisa datang Pak, ini wakilnya paman saya.”
Selanjutnya Pak Brur mulai menceramahi si tukang cimol sebagai “paman” alias wali gue yang dianggap kurang bisa mendidik, sehingga gue bisa bandel dan suka bolos. Duh, padahal baru sekali! Anehnya kenapa gue harus tetap ikutan duduk, padahal Acin tadi nggak ikutan duduk,

yang masuk cuma si tukang somay aja.
“Tolong awasi anak ini!” titah Pak Brur seraya menunjuk ke arah gue yang salting.
Tukang cimol kemudian siap menanda-tangani surat perjanjian yang disodorkan Pak Brur, “bahwa pihak sekolah tidak segan-segan untuk mengeluarkan Bondan dari sekolah, apabila dia mengulangi perbuatannya lagi …..”
Hm, tanda tangan... Dalam hati gue sih janji nggak bakal mengulang perbuatan bolos lagi. Gue akuin gue bukan tipe anak yang cocok untuk ber-madol-ria kayak si Acin itu!
Tiba-tiba pintu Pak Brur diketuk dari luar, “Siapa?”
“Eli, Pak.”
“Oh, ya, masuk!”
Ternyata Mbak Eli, anak buahnya Bu Romlah yang masuk mengantarkan pesanan makan siang untuk Pak Brur.
“Taruh saja di situ …” kata Pak Brur menyuruh Mbak Eli meletakkan seporsi gado-gado ke meja Pak Brur yang penuh dengan buku-buku.
“Baik Pak, “ jawab Mbak Eli yang melirik ke arah gue dan gue balas senyum.
Tapi ketika Mbak Eli mau keluar meninggalkan ruangan, dia melihat ke arah pedagang cimol dan langsung kaget, “Ealah, Kang Acep, ngapain di sini? Duh, pake batik segala, kayak mau kondangan?”’
“Eh Eli, anu, anu abdi teh …”
“Lho, kalian saling kenal?” Pak Brur juga bingung.
”Ini Kang Acep, yang pernah saya ceritakan ke bapak …”
“Tunangan kamu?” tebak Pak Brur lagi.
“Iya.”
“Yang katanya dagang cimol di perempatan sana?”
“Iya, Pak …” tegas Mbak Eli,
“Jadi paman kamu itu pedagang cimol?” tanya Pak Brur langsung penuh selidik ke gue.
Gue jadi kaget, “Eh, i-iya, iya … .”
Tapi Pak Brur langsung menangkap gelagat nggak beres, soalnya dia melotot lagi ke arah gue, sambil menarik surat perjanjian yang udah ditanda-tangani “paman” gue.
Suer, gue akhirnya nggak bisa ngomong apa-apa lagi … yang teringat cuma bayangan wajah si Acin yang suka cengar-cengir itu ….

E . L . I . N

“Pengecut kamu, Nu! Mana Kinu temanku yang gentle, yang selalu siap sedia mempertanggung jawabkan semua ucapannya. Sekarang yang ada cuma Kinu yang pengecut!”

Apanya yang aneh kalau seorang cowok tertarik sama cewek, wajar kan. Cuma masalahnya yang membuat banyak orang gak abis pikir adalah si Kinu, ternyata selera si Kinu bener-bener payah, semua menyayangkan kenapa cowok sekeren Kinu tertarik sama cewek yang tergolong out of date macam Elin?
“Samber gledek si Elin,” komentar Rara iri hati, cewek manis yang sudah lama jatuh hati sama Kinu.
“Amit-amit deh, apa nggak salah pilih si Kinu, kena pelet kali dia,” komentar Tia pula, cewek yang juga udah lama menanti cinta Kinu, dan banyak lagi gunjingan gak enak mereka yang penasaran sekaligus iri.

“Apanya si Elin sih yang menarik,” ketus yang lain lagi.
“Kacamatanya kali,” cibir Mia, yang membuar suasana jadi gerrrr! Celaan itu “kena”, soalnya kacamata Elin itu tebal banget kayak pantat botol.
Gitu deh, soal Kinu yang akhirnya memilih Elin menjalar ke seantero sekolahan dengan cepat, ditambah dengan bumbu bumbu gosip lainnya, berita itu jadi topik yang terus jadi bahan pembicaraan. Sedangkan Kinu, si punya cinta jadi kecut hatinya karena terus jadi bahan pembicaraan. Saat teman temannya membicarakan cewek-cewek yang paling cakep satu sekolahan, Kinu diam saja, dia tau, Elin itu tidak cantik, malah norak dan kuno, tapi ntah kenapa Kinu lebih memilih Elin daripada yang lain.


“Seleramu itu yang gimana sih, Nu. Kan ada Lorita, Widuri, Made, Rara, Tia, Mia, mereka cantik-cantik, keren abis. Kamu nggak tertarik sama mereka?” tanya Dodo, teman sebangku Kinu.
“Nggak,” jawab Kinu kalem.
“Seleramu itu sebenarnya yang gimana sih?” tanya Bim pula sambil garuk-garuk kepala. “Kalau aku jadi Kamu, udah habis tuh cewek-cewek aku jadikan pacar.”

“Elin sebenarnya juga sangat menarik,” jawab Kinu mengejutkan kedua temannya. Ya, siapa yang nggak kenal Elin, bukan karena kecantikannya, tapi karena dia barang kuno satu satunya milik sekolah mereka, bisik kedua teman Kinu sambil ketawa.
Kinu memang tergolong alim, nggak memanfaatkan kepopulerannya, banyak cewek yang ingin mendapat perhatian khusus darinya, tapi… beruntung banget si Elin.
“Nu, yang bener nih…?” tanya Dodo masih nggak yakin.
“Bener,” jawab Kinu tegas. “Penampilannya menurutku nggak norak, tapi unik.”
Dodo dan Bim ketawa lagi mendengar ucapan Kinu, kemudian mereka mencoba menganggap itu hanya candaan Kinu saja, tapi dalam sekejap langsung mereka sebar lewat SMS komentar Kinu tentang Elin itu, yang dalam sekejap disebarkan lagi dari mulut ke mulut, membuat suasana makin heboh, semua anak mencoba menanggapi kalau Elin itu unik di mata Kinu, maka tambah ramai deh pergunjingan, yang ujung-ujungnya hanya karena mereka iri dan gak rela si keren Kinu jatuh dalam pelukan si kuno E-L-I-N.
Kinu kelabakan karena nggak nyangka akan begini jadinya. Di mana-mana dia jadi bahan pembicaraan, berita flu burung yang mewabah aja nggak ada apa-apanya dibandingkan berita Kinu dan Elin. Bagi Kinu, semua itu gak ada masalah, tapi dia risau juga dengan perasaan Elin, takut cewek itu nggak kuat, apalagi mulut teman-temannya makin kurang ajar dan keterlaluan ngeledek Elin, bisa-bisa Elin tersinggung.
Kinu udah kenal baik sama Elin, cuma Kinu nggak tau Elin perasa apa nggak. Yang ditakutkan Kinu, Elin jadi tertekan.
Bagi Kinu, Elin bukanlah cewek yang bodoh, juga bukan kuper, dia bisa bergaul, wawasannya juga luas. Kinu betah ngobrol sama dia karena dia banyak tau tentang musik, film, buku buku, sampe flu burung.
Elin juga bukan cewek yang gampang ge-er, ini juga yang disukai Kinu, soalnya Kinu sering ketemu cewek yang over kalau ngobrol sama dia. Maunya cari perhatian melulu, ternyata pengetahuannya minim. Makanya penilaian Kinu rendah sama teman-teman ceweknya yang laen.
Yang nggak kalah bikin Kinu penasaran, Elin itu juga bukan anak orang miskin, bapaknya seorang pengacara, ibunya karyawan bank. Kalau mau bokapnya pasti dengan gampang membelikannya contact lens yang dapat menyimpan mata-nya. Atau setidaknya, kan banyak bingkai kacamata model terbaru dan lensa yang tipis, tapi berkemampuan maksimal yang bisa mempercantik penampilannya.

Anehnya Elin masih saja setia dengan kacamata zaman baheula yang lensanya kayak pantat botol itu.
Belum lagi model rambutnya yang nggak masuk hitungan potongan modern, semua orang suka ngerumpiin rambut model shagy, rebonding, si Elin tetap aja teguh mempertahankan rambut kepang dua.
Kinu jadi ingat diskusi-diskusi yang sering mereka jalani di ruang OSIS, mereka memang aktif berorganisasi, juga di klub fisika, karena itu mereka banyak punya kesempatan untuk bertemu. Ini pula yang membuat Kinu jadi gelisah, dia mulai was-was bertemu muka dengan Elin.
Dan ketakutannya itu terjadi juga ketika Kinu lagi sendirian di ruang OSIS, tiba-tiba muncul sesosok tubuh yang akhir-akhir ini selalu mebayangi hari-harinya, Elin! Kinu jadi salting, serba salah.
“Apa maksud kamu membuat sensasi murahan itu, Nu?”
Kinu terdiam, dia gak bisa menerangkan apa yang telah terjadi.
“Pengecut kamu, Nu! Mana Kinu temanku yang gentle, yang selalu siap sedia mempertanggung jawabkan semua ucapannya. Sekarang yang ada cuma Kinu yang pengecut!”
Kinu makin terdiam.
“Aku tau kamu banyak disukai cewek cewek, nggak susah buat kamu memiliki satu di antara mereka, tapi apa perlunya kamu bikin ulah yang memalukan begitu?”
Kinu tambah tercekat, tak berani dia memandang bola mata Elin di balik pantat bo….
“Dulu aku bangga punya temen kayak kamu, kita cepat akrab. Kamu ganteng, pintar, alim, gak pilih-pilih teman. Kita sering ngobrolin apa aja yang menyenangkan, kita banyak punya kesamaan, sama sama belajar tentang banyak hal….” Elin diam sejenak, mengambil napas.
“Terus terang, dari dulu aku jarang ketemu sahabat sekeren kamu, karena itu aku bangga banget jadi teman kamu, jadi teman bicara kamu, jadi teman ngobrol kamu pulang sekolah, tapi sekarang kamu mulai berubah….”
Kinu mendongakkan kepalanya sejenak, tertarik oleh kalimat Elin yang terakhir. Berubah? Apanya yang berubah dalam diriku, pikir Kinu.
“Kamu mulai kelebihan mulut sekarang!” tegas Elin.
Kinu seperti dibanting, lalu perlahan Elin keluar ruangan.
Kinu menarik napas panjang….
Kinu merasa jatuh terhempas, K O.

“Kamu harus minta maaf, anggap saja semua kesalahan kamu, Nu,” komentar Dodo saat Kinu nggak mampu lagi merahasiakan masalahnya.
“Aku juga bermaksud begitu. Anak-anak sih….”
“Lalu, tunggu apa lagi?” sahut Bim.
“Di mana dan kapan aku harus melakukannya, yang penting supaya masalahnya nggak tambah besar,” ujar Kinu sambil membayangkan bagaimana reaksi teman-temannya kalau mereka tau dia menemui Elin dan bicara baik-baik dengan cewek itu untuk minta maaf. Bisa terjadi gempa bumi di sekolahan!
“Datang aja langsung ke rumahnya, besok kan malam Minggu,” usul Bim.
“Malam Minggu?”
“Iya, datang saja, aku setuju, malam Minggu kan bukan spesial buat pacaran, tapi karena gak ada pe-er,” tambah Dodo sok tau sambil cengengesan.
Kinu menimbang-nimbang sesaat, karena nggak ada jalan lain yang terbaik, akhirnya Kinu menyetujui usul dua sohibnya.
Dodo dan Bim kasihan juga melihat Kinu, bagi mereka Kinu bisa menggaet cewek mana pun, tapi Kinu nggak pernah memanfaatkan kegantengannya untuk memacari banyak cewek.
Sabtu malam Minggu, Kinu sudah berada di depan rumah Elin. Rumah ortu Elin megah dan mentereng, bergaya mediterania, halamannya ditata dengan berbagai aneka tanaman yang serba indah dengan lampu taman yang menyala di beberapa sudutnya. Kontras dengan pemilik yang tinggal di dalamnya, terutama Elin, pikir Kinu.
Dengan dada berdebar debar Kinu memasuki gerbang yang terbuka, seakan baru saja ada kendaraan yang masuk pulang bepergian, dia tak tahu harus permisi kepada siapa karena tidak ada orang menjaga pagar juga tidak ada anjing galak, lalu sampai di depan pintu, Kinu berdoa dalam hati kemudian memencet bel, tangannya bergetar.
Cuma beberapa detik Kinu termangu-menunggu, lalu terdengar kunci pintu diputar. Mata Kinu terbelalak.
Di hadapannya berdiri seorang cewek seperti bidadari turun dari kayangan tersenyum ke arahnya. Tapi belum sempat Kinu membalas senyum itu, sang tuan rumah kembali menarik senyumnya begitu dia tahu siapa yang datang, bahkan tarikan senyumnya itu sedemikian tajamnya sehingga membentuk cemberut yang sadis nian.
“Ada apa, Nu?” suara Elin datar tapi lembut. Suara yang begitu dikenal Kinu, suara Elin, tapi mungkinkah…?
“Masuk, Nu….”
Kinu yakin itu adalah suara Elin, lagipula siapa yang dia kenal di rumah ini selain Elin. Saking bengongnya sampai Kinu tak menghiraukan ajakan gadis itu untuk masuk ke dalam.

Gadis itu mengulanginya kembali.
“Ayo masuk, Nu.”
Kinu tersadar, diikutinya langkah gadis itu menuju ruang tamu yang tergolong mewah, tapi Kinu tak tertarik untuk memperhatikannya, dia benar-benar lebih tertarik pada gadis yang menemuinya itu. Dia sedikit ragu, benarkah…?
“Ka… kamu… Elin kan?” akhirnya terlontar rasa penasarannya, mata Kinu menatap tak berkedip.
Yang ditatap cuma tersenyum mengangguk.
Kinu meneguk liurnya, tak tau apa yang harus dilontarkannya sebagai pembuka kata. Hanya matanya yang masih lekat memancar pujian kagum tak percaya.
Elin yang ada di depannya sungguh sangat jauh berbeda dengan yang ditemuinya sehari hari di sekolah. Hidungnya yang mancung sempurna kini nampak jelas karena kacamata setebal pantat botol cocacola itu tidak lagi nangkring di atasnya, dan ternyata Elin dapat berjalan dengan baik tanpa kacamata itu. Matanya tampak begitu cerah dan hidup, berwarna kebiru-biruan yang lembut seperti mata bule.
Rambut yang biasa dikepang dua itu pun kini telah rapi dan lurus karena direbonding, lepas tergerai. Lebih indah lagi terlihat kala dia menggerakkan kepala, rambut itu pun ikut bergerak gerak indah sekali. Tank top yang dipakainya jelas membuat dia ternyata memiliki body yang seksi, anting-anting bundar berwarna pink membuat wajahnya semakin bersinar indah.
Sampai beberapa jenak kebisuan berlangsung, hingga Elin merasa jengah dipandangi Kinu terus menerus.
“Ada apa sih, Nu?”
Kinu tersadar.
“Hm… anu, anu… Aku….” Kinu gelagepan. “Ehm… aku ke sini ada perlu….”
“Perlu apa?”
“Ehm, aku kesini, mau meminta maaf sama kamu.” Plong perasaan Kinu, akhirnya terlepas juga beban yang dipikulnya beberapa hari terakhir ini.
Elin tertunduk, terus terang dia sakit hati dengan ulah Kinu, karena dia telah jadi bahan tertawaan di sekolah, hingga tadi pulang sekolah dia mendadak ke optic bersama mamanya membeli contact lens dengan sistim sepuluh menit, juga ke salon. Elin berharap mereka tak menertawakannya lagi.
“Iya deh, aku memafkanmu,” jawab Elin lirih, bagaimana pun juga dia menghargai sikap Kinu yang mau mengakui kesalahannya.

Kinu mengangguk-angguk, senang sekali dia. Suasana jadi sedikit lebur, Kinu tersenyum, Elin pun tersenyum.
“Tapi El, aku memang benar-benar tertarik sama kamu,” kata Kinu lagi, ia sendiri pun heran, kenapa dia bisa tiba-tiba lancar begitu.
Elin jadi tersipu-sipu mendengar pernyataan Kinu, namun dia tahu Kinu benar-benar tertarik sejak lama kepadanya.
“Kamu ini aneh, Nu, cewek norak dan kuno begini kok ditaksir?”
“Kamu nggak norak dan kuno, El. Coba saja kamu ke sekolah sekarang tanpa kacamata dan rambut kepangmu, pasti banyak yang setuju dengan pendapatku, bahwa kamu sebenarnya cantik sekali. Jadi aku nggak salah tertarik sama kamu, kan?”
Lagi-lagi Elin tersipu, tiba-tiba saja banyak bunga mekar di hatinya mendengar ucapan Kinu itu.
“Tapi aku lebih suka pakai kacamata dan rambut kepang kalau ke sekolah, nanti rambutku akan kukepang. Dan contact lens-nya kulepas.”
“Kenapa?” Kinu heran, ada cewek yang nggak mau kelihatan cantik, gimana sih?
Tapi apa jawab Elin.
“Lebih aman dan tenang dengan penampilan begitu, Nu.”
Hmm… bener juga, pikir Kinu. Dengan penampilan norak, pasti nggak banyak cowok yang usil. Belajar bisa aman dan tenang. Elin benar-benar cewek yang “beda” pikir Kinu.
“Mm…” Kinu tiba-tiba serba salah, tiba-tiba dia takut Elin akan banyak dapat godaan setelah penampilannya berubah.
“Ada apa, Nu?” tanya Elin melihat Kinu gelisah.
“Bolehkan aku setiap malam Minggu ke rumahmu? Tapi kalau kamu pake kacamata itu lagi dan rambut kepang ke sekolah, nggak apa apa, asal setiap malam minggu aku melihatmu seperti ini,” ujar Kinu dan tak sabar ia ingin segera mendengar jawaban Elin.
Elin tersipu, mereka saling berpandangan. “Ya liat aja nanti,” jawab Elin penuh arti.
Kinu merasa lega, YESS! Teriaknya dalam hati, tapi Kinu berharap Elin datang ke sekolah dengan penampilan seperti malam ini, agar teman-temannya bisa melihat siapa Elin yang sebenarnya.
Kinu yakin teman-temannya nanti pasti bilang, kalau dia tidak salah sudah memilih Elin, si gadis cantik yang sengaja menyembunyikan kecantikannya.

Cinta Itu Bukan Bola !

Ia menarik bahuku hingga aku menghadap ke arahnya, tepat sebelum aku sempat menghapus air mata yang tak bisa lagi aku bendung di pelupuk mataku.

Seluruh rasa antusias itu seakan luruh. Semangatku untuk mendengar cerita Laras, hilang begitu saja. Kebahagiaan yang tadi sempat mengisi relung hatiku, tercabut secara paksa.

Di sebuah kamar kost-an, aku duduk di atas tempat tidur. Tangan kananku memegang sebatang cokelat. Di tangan kiriku, aku memainkan sebuah permainan, di handphone kesayanganku.

“Tari, perasaan dari tadi pagi lo makan cokelat terus. Apa enggak takut gemuk?” tanya Wery, sambil berbaring di tempat tidur yang terletak di samping kanan tempat tidurku.

“Iya, gue heran deh sama Lestari. Padahal kalau makan cokelat enggak tanggung-tanggung. Sekali makan bisa habis dua batang. Tapi kenapa badan lo enggak gemuk sih?” Hanny yang dari tadi sibuk ber-SMS-an dengan Deni, pacarnya, ikut melibatkan diri dalam obrolan kami.

“Jangan-jangan lo muntahin lagi, ya?” timpa Wery, sebelum sempat aku menjawab pertanyaan dari mereka.

“Wah, jangan-jangan iya, nih. Lo bulemia ya?”

“Bulemia? Yang benar tuh, bulimia. Bukan bulemia. Makanya kalau punya kamus kedokteran itu dibuka-buka. Jangan disimpan aja,” ledek Wery, sambil tertawa terbahak-bahak.

Kami pun kemudian tertawa.

Begitulah suasana di kost-an bila malam tiba. Selalu ramai dengan canda tawa. Kata-kata yang Hanny dan Wery lontarkan, terkadang memang dalam. Tapi memang begitulah mereka. Ceplas-ceplos.

Untuk menanggapi mereka yang seperti itu, aku harus menganggap bahwa kata-kata yang mereka lontarkan itu tidak serius. Mereka hanya bercanda. Kalau aku mengganggap serius kata-kata mereka. Dijamin, aku enggak akan betah tinggal di kost-an.

“Eh, tapi benar enggak sih, kalau lo bulimia?” Henny masih penasaran.

“Ya, enggak lah. Ngapain juga gue harus muntahin makanan yang sudah gue makan. Kalau gue ngelakuin itu, bisa-bisa, dinding perut, usus, ginjal, gigi, semuanya rusak. Dan yang lebih parah, gue bisa meninggal karena kekurangan gizi. Mending gue meninggal karena dicium Fikri, dari pada gue meninggal karena kekurangan gizi,” aku yang sejak tadi bergeming, akhirnya menanggapi kata-kata mereka.

“Cieee... yang tadi pagi baru jadian. Omongannya enggak nahan.”

Tok... tok... tok....

Tiba-tiba pintu rumah di ketuk dari luar.
Wery, yang bertugas piket hari ini, bangkit untuk membukakan pintu.

“Tari, gue mau curhat!” Laras, saudara kembarku, sudah berdiri di depan pintu kamar, padahal baru lima belas detik Wery membuka pintu. Laras kemudian langsung berlari ke arahku.

“Lo ke sini sama siapa? Sudah malam begini,” tanyaku, heran.

“Sendiri. Gue sengaja ke sini, mau curhat sama elo. Lagian, besok gue enggak ada jadwal kuliah. Jadi gue bisa nginep di sini.”
“Eh... enggak bisa, enggak bisa. Bertiga aja sudah sempit. Apalagi ditambah satu gajah.” Hanny protes.

“Teman lo keterlaluan banget, sih. Masa gue dibilang gajah. Lagian, kamar ini kan masih luas banget!” Laras marah.

“Hanny memang begitu. Udah, enggak usah di masukin ke hati. Cuekin aja. Kita pindah ke kamar sebelah aja, yuk.”

Aku dan Laras kemudian bergeras meninggalkan kamar yang ditempati Hanny dan Wary. Kami menuju kamar yang lain, yang terletak tidak jauh dari kamar mereka.

Di rumah yang kami kontrak ini, hanya mempunyai dua kamar. Satu kamar untuk tidur. Satu kamar lagi untuk lemari pakaian dan rak buku. Kami sengaja mengaturnya seperti itu. Karena yang tinggal di rumah ini bukan hanya dua orang. Melainkan tiga orang. Selain itu, agar kebersamaan dan kekeluargaan di antara kami lebih terasa.

Sesampainya di kamar, laras langsung merebahkan diri ke karpet, yang berada tepat di tengah-tengah deretan lemari. Aku yang memang sudah lelah, ikut berbaring di sampingnya.

“Tari, lo tahu enggak. Tadi pagi gue ketemu cowok, cakep banget. Rambutnya ikal, matanya cokelat, hidungnya mancung, senyumnya manis, terus di pipi kanannya ada tahi lalat. Pokoknya sempurna banget, deh. Gue suka sama dia.”

“Ketemu di mana? Namanya siapa?” tanyaku, antusias. Perasaan lelah itu hilang seketika, tergantikan olah semangat yang baru. Karena baru kali ini Laras menceritakan tentang perasaannya pada seorang pria. Baru kali ini dia jatuh cinta. Padahal usianya sudah hampir sembilan belas tahun.

“Gue ketemu dia waktu di toko buku. Namanya Fikri.”

“Siapa?!” tanyaku, tak percaya.

“Fikri. Fikri Adi Dinata. Kalau enggak salah, dia juga kuliah di kampus lo, di jurusan Kesehatan Masyarakat. Lo kenal?! Ih... salamin ya.”
Seluruh rasa antusias itu seakan luruh. Semangatku untuk mendengar cerita Laras, hilang begitu saja. Kebahagiaan yang tadi sempat mengisi relung hatiku, tercabut secara paksa. Meskipun begitu, aku tidak ingin mengecewakan Laras. Aku tetap mendengarkan cerita tentang pertemuannya dengan Fikri. Tak tega rasanya membuatnya kecewa. Ia begitu bersemangat, begitu bahagia.

Aku benar-benar bingung sekarang. Aku harus bagaimana?! Laras ternyata mencintai Fikri, pacarku sendiri. Ini bukan salahnya, karena dia tidak pernah mengetahui bahwa aku dan Fikri, sebenarnya pacaran. Ini adalah kesalahanku sepenuhnya, karena aku tidak pernah memberi tahu Laras. Tapi aku tidak tega menghancurkan perasaannya. Cinta pertamanya!
***

“Fikri, hari ini kamu masih ada jam kuliah enggak?”

“Enggak ada. Memang ada apa?”

“Aku ingin ke pantai. Kamu mau menemaniku?”

“Untuk kamu, apa sih yang enggak?”

“Ya sudah. Berangkat, yuk.”

“Oke.”

RX King milik Fikri melaju dengan kencang. Membelah jalanan Kota Baja yang penuh debu.

Semilir angin pantai menerpa wajah tirusku, yang terduduk bagai di hamparan lautan es kim. Rambut ikal bergelombang menari mengikuti arah angin berhembus. Lenganku memeluk lutut. Pandanganku lurus ke garis horizontal.

Fikri duduk di samping kiriku. Kedua kakinya diluruskan. Tangannya meremas butir-butir pasir yang ada di samping kanan dan kirinya. Selama beberapa saat kami terdiam. Hanya suara debur ombak yang terdengar.

“Tari, sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?” tanya Fikri, tiba-tiba. Ia seakan merasakan ada sesuatu yang kusembunyikan.

Aku bangkit, kemudian berseru, “Fikri, aku ingin bermain dengan ombak.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

Fikri kemudian menggenggam dengan lembut tanganku. Aku menatapnya. Mataku dan matanya saling beradu. Ada kepedihan di hatiku.

Aku melepaskan genggaman Fikri. Dengan gontai aku melangkah, mendekati riak ombak yang menjilati hamparan es krim itu. Fikri menyejajarkan langkahnya dengan langkahku.
Aku hentikan langkahku, saat ombak yang menerjang kakiku semakin kuat. Fikri masih berada di sampingku.

“Sayang, kamu kenapa? Pasti ada sesuatu hal yang ingin kamu katakan padaku.”

“Fikri, kita adu lari, yuk. Sampai tembok pembatas itu ya,” untuk kedua kalinya aku mengalihkan pembicaraan.

“Oke. Tapi kalau kamu kalah, kamu harus mengatakan yang sejujurnya. Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan.”

Setelah aku merasa letih, aku kemudian berhenti dan berbalik. Ternyata aku sudah jauh meninggalkan Fikri, yang memang tidak ikut berlari. Masih dengan nafas tersengal-sengal, aku kembali berlari ke arah Fikri. Aku merasakan beban di hatiku kini sedikit berkurang.

“Kamu curang,” seruku, masih dengan tersengal-sengal.

“Kamu larinya semangat banget, sih. Jadi aku enggak bisa menyusul deh,” jawab Fikri, sekenanya.

Aku kemudian terdiam. Pandanganku kembali tertuju ke garis horizontal. Namun kini, sebuah senyuman mengembang dari bibir tipisku. Perasaanku lebih tenang.

“Sayang, sebenarnya ada apa sih?”.

“Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu. Hanya bersamamu, hari ini,” jawabku. Pandanganku masih tertuju ke garis horizontal.

Fikri kemudian tersenyum, sambil berkata, “Aku pikir kamu mau cerita sesuatu. Karena kamu selalu mengajak aku ke pantai, kalau mau cerita sesuatu.”

“Masa, sih?”

“Bukannya iya?”

Kami pun bercanda dan tertawa. Menghabiskan hari ini bersama. Berdua, di tepi pantai. Kami bercanda dan tertawa, hingga senja berada di ufuk barat.
***

Kala senja berada di ufuk Barat, tepat berada di tengah garis horizontal, aku mengatakan, “Fikri, aku sudah memutuskan bahwa aku enggak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku enggak bisa pacaran sama kamu. Ada seseorang yang lebih pantas untukmu.”
“Maksud kamu apa?!”

Aku kemudian menarik nafas, dalam dan panjang. Menghembuskannya perlahan. Aku berusaha untuk tersenyum, meskipun hatiku terluka. Sama seperti yang Fikri rasakan saat ini.

“Aku sudah terlalu sering menyakitimu. Aku tidak berhak mendapatkan cintamu. Kamu berhak mendapatkan wanita lain yang lebih baik dariku. Dia adalah Laras.”

“Laras?! Saudara kembarmu? Lestari, cinta itu bukan bola, yang bisa kamu oper sesuka hatimu. Sekalipun, kepada saudara kembarmu!” Fikri marah besar.

Hatiku semakin terluka. Aku menyadari, bahwa cinta memang bukanlah sebuah bola. Tapi demi kebahagiaan Laras, aku berharap, cintamu padaku seperti halnya sebuah bola. Sehingga cinta itu bisa dioper kepada Laras. Dan membuatnya bahagia.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...